
Berikut ini tulisan Muchid Albintani yang tertuang dalam bukunya, ‘Sajak Sajak Rindu ‘Dini’.
PERTAMA, pada penerbitan sebelumnya (maksudnya, sebelum edisi revisi buku ini), Dr Husnu Abadi yang saya mintai tolong untuk memberikan pengantar (prolog), dan bang Kazzaini kata penutup (epilog), bertanya, “mengapa buku kumpulan sajak ini diberi tajuk “Rindu ‘Dini”.
Kemudian, kata Dini mengapa harus diberikan tanda dua koma di atas?” Sebelum saya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kesannya ‘mendikte’ tersebut, bang Kazzaini bertanya lagi, “Sedang jatuh Cinta yang ke berapa kali? Setahu saya Rina?! Dini itu siapa?”
Pada edisi revisi buku ini, diaolog dengan Dr. Husnu dan Bang Kazzaini yang seorang penyair itu tetap disampaikan. Jujur saja, pertanyaan terakhir bang Kazzaini terkait ‘jatuh Cinta’, setahunya Rina, dan Dini itu siapa, menjadikan saya tertarik dan semangat untuk menjawabnya.
Bukan berarti pertanyaan lain menjadi tidak menarik. Ini disebabkan, kata Cinta, Rina dan Dini yang tanpa ada kata Rindu sesuai tajuk tulisan dalam pengantar lazimnya menciptakan sebuah persepsi bahwa Cinta itu perasaan, sementara Dini atau Rina pastilah nama seseorang perempuan.
Persepsi tersebut memang benar, tetapi tidak seratus persen. Kalau Cinta ditafsirkan perasaan dari seseorang kepada orang lain itu wajar pun rasional. Terus terang sengaja saya menciptakan kata Rindu digantikan dengan Cinta dan ‘Rina-Dini’ dengan argumentasi, pertama, Cinta mengapa harus ‘jatuh’? Kiasan ini menunjukkan perasaan.
Sehingga harus ditasfirkan Cinta menjadi benda. Banyak tafsir tentang Cinta, oleh karena saya bukan ustaz atau konsultan Cinta dalam sajak-sajak [kumpulan sajak ini], saya lebih suka menafsirkan Cinta [bukan cerita indah namun tiada arti].
Saya memaknainya sebagai perasaan normal yang selalu ada dalam diri atau jiwa setiap manusia. Itu saja. Definisi yang normal, logis dan masuk akal. Jika pembaca ingin menafsirkan dengan versi lain, tidak ada persoalan. Semua kita diberi kesempatan yang sama. Silakan!
Kedua, konsep ‘Dini’ atau ‘Rina’? Konsep atau kata Dini, saya meyakini banyak yang menafsirkan sebagai nama seseorang yang pasti perempuan. Padahal Dini juga dapat dimaknai sebagai waktu yang awal. Terkadang secara iseng orang menyingkatnya dengan EDIN (kependekan dari titik titik Dini).
Dari sini saja sudah terjadi perbedaan ketika kita berupaya dengan saksama memaknainya. Ini belum kalau konsep Dini ditafsirkan menjadi nama depan, tengah atau belakang dari nama panggilan seseorang. Misalnya, Dini Mariani Sugiarto atau Dini Rina Soleha.
Dari kedua nama yang dimulai dengan Dini saja, kita sudah beda cara menjelaskannya. Nama pertama, kata Sugiarto dapat dimaknai sebagai suami Dini, atau orang tua dari Dini.
Sementara nama kedua, Soleha apakah menunjukkan Dini sebagai seorang wanita yang soleha? Silakan saja, pembaca memaknainya sendiri. Sementara, terkait nama Rina? Boleh jadi nama yang muncul atas dugaan pun spkekulasi dari Bang Kazzaini saja?
Berlatar argumentasi tentang dua konsep antara Rindu (Cinta) dan Dini, bagi saya Dini hanyalah diskripsi dari eskalasi perasaan yang dinamik dalam jiwa yang siapa saja pernah atau mengalami. Begitulah Dini, saya memaknainya. Yang pada akhirnya, Dini telah berhasil memotivasi untuk menyelesaikan buku kumpulan sajak ini.
Untuk kemudian ketika dalam penyelesaiannya mengalami proses dinamika hati, inilah yang pada akhirnya antara Rindu dan ‘Dini’ memang benar ada ‘cinta’. Percaya atau tidak sesungguhnya Anda, Saya dan Pembaca semua telah memahami makna sekaligus jawabannya: bahwa kita pernah, sedang atau akan jatuh cinta! Setuju?!
KEDUA, ucapan terima kasih adalah ungkapan mengakhiri kegiatan penulisan dan penerbitan kumpulan sajak ini sebagai sebuah produk kreatif. Sepatutnya ucapan terima kasih disampaikan kepada pelbagai pihak atas penerbitan khususnya edisi revisi.
Ucapan terima kasih pertama kepada Dr. Husnu Abadi, SH., M.Hum yang dalam kesibukannya sebagai dosen di Universitas Islam Riau (UIR) sekaligus ‘penyair tiga lautan’, masih sempat memberikan pengantar [prolog] buku ini.
Kepada Bang Drs. Kazzaini Ks yang dalam kesibukannya sebagai Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR), pada edisi sebelumnya, memperkanankan saya ‘mencuri’ waktunya untuk memberikan kata penutup [epilog] buku ini.
Kepada rekan-rakan di kampus tercinta, Prof. Sujianto, Dr. Syafrial, Dr. Hasanuddin, Dr. Khairul, Dr. Belly Nasution, Dr. Welly Wirman, Bung Ismandianto, Mas Jumali, dan lainnya yang tdak dapat disebutkan namanya, saya ucapkan terima kasih.
Secara khusus dan teristimewa ucapan terima kasih setinggi-tingginya diberikan kepada mereka yang bernama depan Dini bukan Rina, karena telah ‘berbaik hati’ sengaja ataupun tidak menyediakan namanya menjadi sumber inspirasi dan semangat dalam penulisan karya kreatif ini.
Akhirnya saya menyadari jika penerbitan buku ini tidak terlepas dari kekurangannya. Kritik dan saran yang membangun diharapkan dari pembaca, demi perubahan penerbitannya pada masa mendatang. Semoga amal bakti mereka semua mendapat imbalan yang sepadan di haribaan Allah SWT. Amin.
Pekanbaru, Juli 2022
Editor: Abdul Hakim
2
