Semalam di Pondok Pesantren Al Affaanie Talang Tuo Palembang

PERJALANAN dari Muara Enim ke Pondok Pesantren Al Affaanie Talang Tuo Palembang, saya tempuh sekitar 6 jam. Istirahat sebentar, makan siang di restoran ‘Tahu Sumedang Renyah’ Jalan Lintas Sumatera, Lingga, Muara Enim. Di sini, ada menu yang saya incar, pindang patin. Kuahnya bening dan rasanya maknyus.
Memasuki akses gerbang Pesantren Al Affaanie menjelang maghrib, Rabu 31 Mei 2023. Di pesantren yang baru berusia satu tahun inilah, wartawan Majalah Siber Indonesia J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani, bermalam. Bagaimana catatan semalam di Pondok Pesantren Al Affaanie Talang Tuo Palembang itu? Berikut catatannya.
Santri yang bermukim di pesantren seluas 5,2 hektar ini, baru sekitar 15 orang. Jika ditambah dengan para santri yang pulang-pergi, datang ke pesantren hanya untuk sekolah pagi lalu pulang, maka jumlahnya menjadi 25 orang.
Mereka terdiri dari para siswa sekolah dasar, ibtidaiyah, kelas 1 sampai kelas 5. Belum ada yang duduk di kelas 6. Sedangkan siswa sekolah menengah pertama, tsanawiyah, baru dua kelas. Juga belum ada yang duduk di kelas 9.
Di pesantren yang berada di dataran agak tinggi itu, para santri tidak dipungut biasa sepeser pun. Gratis. Mulai dari biaya sekolah sampai dengan uang makan mereka. Semuanya, gratis-tis. “Semuanya ditanggung oleh Yayasan Pendidikan Catur Permata Sukses yang diketuai oleh H Muhammad Akbar Alfaro, B Bus MM,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Al Affaanie Talang Tuo Palembang, KH. Maulana April.
Selama sehari semalam di pesantren ini, saya tiga kali sholat jama’ah bersama para santri, maghrib, isya’ dan subuh. Imam sholat maghrib, Ustadz Haqiqurrahman, alumni Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Jawa Timur, asal Surabaya.

BACA JUGA: Yayasan Al Baza Palembang Gandeng Anak Menjemput Masa Depan, Bimbing Manula Meraih Surga
Kemudian, imam sholat isya’, Ustadz Wildan juga alumni Pondok Pesantren Al Amien, tapi berasal dari konsulat Sumenep Madura. Sedangkan sholat subuh, langsung diimami oleh KH. Maulana April, yang juga alumni Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura.
“Ustadz Haqiq dan Ustadz Wildan, keduanya saat ini sedang menjalani program pengabdian wajib selama satu tahun bagi semua santri yang baru lulus di Pesantren Al Amien,” ungkap KH. Maulana April.
Seusai sholat maghrib, KH. Maulana April mengumpulkan para santrinya. “Malam ini kita kedatangan tamu, Ustadz Saibansah, alumni Pesantren Al Amien, tidak menjadi ustadz tapi wartawan. Jadi, tidak semua lulusan pesantren itu nantinya menjadi ustadz. Mari kita menyimak tausiah dari Ustadz Saibansah mengenai perjalanan karir dan bagaimana kiat meraih sukses setelah tamat pesantren,” papar kyai muda Palembang itu.
Maka, sambil menunggu waktu isya’, saya memaparkan pengalaman saat masih menjadi santri di Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura, sampai kemudian menjadi wartawan di Harian Pagi Riau Pos Pekanbaru, tahun 1992, hingga karir saat ini. Intinya, memberi para santri itu motivasi agar mereka sejak dini sudah mempunyai cita-cita.
Cita-cita itulah yang kemudian dibawa dalam do’a-do’a mereka setiap sehabis sholat. Sehingga, cita-cita tersebut akan menghunjam kuat di dalam hati mereka, lalu menuntun perjalanan hidup mereka setamat dari pesantren. “Jangan lupa membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, setiap habis sholat, setiap hari, lalu ucapkan cita-cita kalian dalam do’a.”
Ketika saya tanya, siapa yang sudah punya cita-cita? Semuanya mengangkat tangan. Santri maupun santriwati. Ada Agung, yang bercita-cita menjadi polisi, ada pula santriwati yang bercita-cita menjadi dokter. Bahkan, ada santri yang masih baru duduk di bangku kelas pertama atau kedua ibtidaiyah, bercita-cita menjadi tentara. “Saya mau jadi tentra,” katanya menyebut ‘tentara’ dalam dialek Palembang, ‘tentra’. So pasti, ada juga yang bercita-cita menjadi seorang kyai dan ustadz.

Menyenangkan saat mendengar mereka menyampaikan cita-citanya, dengan gaya dan logat khas Palembangnya. Sehingga, tak terasa waktu sudah masuk sholat isya’. Entah mengapa beberapa dari mereka bercita-cita menjadi polisi dan tentara. Ternyata, mereka rutin latihan renang di Markas Batalyon Infanteri Raider 200/Bhakti Negara, Kodam II/Sriwijaya.
BACA JUGA: Pimpinan Ponpes Al Amien Prenduan Sumenep Madura Endorse Liputan J5NEWSROOM.COM
Sehabis sholat isya’, KH. Maulana April menjamu saya dengan aneka menu khas Palembang, pempek dan tekwan. Plus aneka kue lain. Malam itu, saya makan bersama para ustadz di ruang Sekretariat Pesantren Al Affaanie. Dan di sini pulalah saya melepas malam.
Sebelum adzan subuh bergema, saya sudah duduk di masjid. Beberapa santri sudah bersiap untuk mengambil wudhu’, sebagian lagi sudah memasuki masjid. Menunggu waktu sholat subuh tiba. Lalu, kami pun sholat subuh berjamaah. Imamnya, KH. Maulana April. Setelah sholat subuh, para santri berzikir dan dilanjutkan dengan tahlil.
Setelah itu, para santri berkumpul di depan kamar untuk menyimak tausiah yang disampaikan oleh Ustadz Wildan. Saya pun menyimak dari jarak sekitar 50 meter, dari tempat saya berbincang berdua dengan KH. Maulana April. Menghadap arah perumahan. Karena berada di dataran cukup tinggi, maka dari tempat kami duduk, saya bisa melihat atap rumah-rumah warga. “Sebagian santri sini ada yang dari warga perumahan itu.”
Di tengah obrolan santai itu, KH. Maulana April mengungkapkan, di hamparan tanah pesantren seluas 5,2 hektar ini, terdapat tanah seluas ukuran 20 x 20 meter yang diarsir oleh pemerintah. Di atas tanah itulah saat ini terdapat napak tilas Prasasti Talang Tuo.
“Sekarang, oleh warga prasasti itu dibangun menjadi seperti makam, padahal di situ dulu pernah dipasang replika prasasti Talang Tuo. Salahnya, replika prasasti itu dibikin dari bahan tembaga, sehingga saat ini telah hilang,” tutur Pimpinan Pesantren Al Affaanie itu.
Karena sudah dibentuk menjadi makam dan ada batu nisannya, lalu ditulis ‘Eyang Talang Tuwo’ Tahun Saka 606 (684 Masehi) dan ‘Dewo Bernuo’ (684 Masehi), maka ada saja warga yang berziarah. “Setahu saya, ini bukan makam tapi taman tempat peristirahatan beranama Sriksetra yang dibangun oleh Kerajaan Sriwijaya pada 23 Maret 684 Masehi, yang saat itu dipimpin oleh Sri Baginda Sri Jayanasa,” tutur KH. Maulana April lagi.

BACA JUGA: Ke Gontor Apa yang Kau Cari?
Petilasan Prasasti Talang Tuo yang berada di tengah-tengah kebuh sawit milik Pesantren Al Affaanie itu kerap diziarahi orang dari luar kota Palembang. Bahkan ada diantara mereka yang sampai melakukan ‘lelaku’ hingga tengah malam.
Di tengah obrolan santai, saya bertanya. Apakah yang menjadi problem serius dalam memimpin pesantren ini? “Jam kosong.” KH. Maulana April menjawab lugas.
Jam kosong itu adalah musuh utama dalam membangun pesantren. Jangan biarkan santri sampai terjebak dalam jam kosong. Karena pada saat ketemu jam kosong itulah, terkadang ada santri ada yang ingin pulang, tidak kerasan.
Lalu, bagaimana cara menghadapi musuh utama itu, jam kosong.
Menggiring para santri dengan berbagai kegiatan. Salah satu kegiatan yang paling ditunggu-tunggu para santri adalah latihan renang di Markas Batalyon Infanteri Raider 200/Bhakti Negara, Kodam II/Sriwijaya. Kebetulan, jaraknya tidak terlalu jauh, hanya 5,1 km.
“Jadi, kalau para santri sudah mulai jenuh dan ingin hiburan, saya ajak mereka untuk berenang. Mereka sangat senang latihan renang, apalagi di markas pasukan elit infanteri raider TNI Angkatan Darat.”
Demikianlah KH. Maulana April memaparkan banyak hal mengenai pesantren yang dalam konsepnya akan dikembangkan hingga ke jenjang perguruan tinggi itu.
Editor: Agung
