Kehadiran Prabowo di May Day 2026 Didorong Jadi Momentum Perbaikan Nasib Buruh

Presiden Prabowo Subianto saat hadir May Day 2025 di Monas. (Foto: Antara)

J5NEWSROOM.COM, Jakarta – Rencana kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Buruh Sedunia 2026 dinilai tidak boleh sekadar bersifat seremonial, melainkan harus menjadi momentum penting untuk mendorong perbaikan kondisi ekonomi para pekerja.

Analis komunikasi politik Hendri Satrio menegaskan bahwa May Day tahun ini seharusnya menjadi titik kebangkitan ekonomi nasional, khususnya bagi kalangan buruh. Ia menilai kehadiran presiden perlu membawa pesan kuat bahwa negara benar-benar hadir untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja.

Menurut sosok yang akrab disapa Hensa itu, momentum ini juga ideal untuk mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam isu ketenagakerjaan, termasuk pengusaha dan buruh, dalam satu forum yang difasilitasi pemerintah.

Ia menilai, pertemuan langsung tersebut dapat membuka ruang dialog yang lebih konstruktif sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai persoalan ketenagakerjaan. Jika kondisi ekonomi buruh membaik dan daya beli meningkat, dampaknya juga akan terasa pada pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Hensa juga melihat kehadiran Prabowo dalam dua peringatan May Day berturut-turut sebagai upaya membangun kedekatan dengan kalangan pekerja serta sinyal politik bahwa pemerintah ingin berada di pihak buruh.

Selain itu, ia mencatat sejumlah tuntutan buruh pada May Day 2025 mulai mendapat respons pemerintah, seperti pengesahan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, pembentukan satgas pemutusan hubungan kerja, hingga penetapan Marsinah sebagai pahlawan nasional.

Meski demikian, Hensa mengingatkan agar kehadiran presiden tidak berhenti pada simbolisme. Ia menekankan pentingnya konsistensi pemerintah dalam menindaklanjuti berbagai tuntutan yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah, termasuk isu penghapusan sistem outsourcing.

Menurutnya, berbagai tuntutan buruh merupakan cerminan kondisi nyata masyarakat saat ini, sehingga perlu dipandang sebagai aspirasi publik yang harus ditindaklanjuti melalui kebijakan konkret.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa peringatan May Day bukan sekadar agenda tahunan, melainkan refleksi kondisi ekonomi rakyat yang harus dijawab dengan langkah nyata dari pemerintah.

Sumber: RMOL
Editor: Agung