Membaca Jejak Karir Kompol Debby dari Batam Menuju Sespimmen Polri

Wartawan J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani ngopi dengan Kompol M. Debby Tri Andrestian. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

J5NEWSROOM.COM, Batam – Perjalanan hidup tidak pernah benar-benar lurus. Di dalamnya ada keputusan yang harus diambil, jalan yang harus ditinggalkan, tugas yang harus dituntaskan, juga keraguan orang lain yang harus dijawab bukan dengan kata-kata, melainkan dengan kerja. Perjalanan hidup itulah yang dilalui Kompol M. Debby Tri Andrestian. Bagaimana perjalanan karir anak seorang guru itu? Berikut catatan wartawan J5NEWSROOM.COM, Saibansah Dardani.

Lahir dari keluarga sederhana di Kotabumi, Lampung Utara, Debby tumbuh sebagai anak seorang pegawai negeri sipil dan seorang guru. Dari lingkungan keluarga itu, ia belajar tentang kehidupan dan pengabdian.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polresta Barelang, Debby mendapat penugasan baru sebagai Analis Kebijakan Pertama Bidang Binopsnal Ditreskrimum Polda Kepulauan Riau (Kepri). Penugasan itu sekaligus menjadi bagian dari langkahnya mengikuti Pendidikan Sespimmen Polri Tahun Anggaran 2026.

Nama Debby tercantum sebagai peserta didik Sespimmen Polri Dikreg ke-67. Ia bahkan masuk melalui jalur khusus peserta penerima Penghargaan Kapolri, sebuah jalur yang diberikan kepada personel yang dinilai memiliki prestasi. Bagi Debby, perjalanan menuju titik tersebut jauh lebih panjang daripada sekadar deretan jabatan di dalam daftar riwayat dinas.

Debby lahir di Kotabumi, Lampung Utara, pada 1990. Ayahnya seorang pegawai negeri sipil. Ibunya guru.

Ia menghabiskan masa kecil dan pendidikan dasarnya di daerah kelahirannya. Setelah menyelesaikan pendidikan di SD Negeri 4 Tanjung Aman dan SMP Negeri 7 Tanjung Aman, Debby melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Bandar Lampung. Lulus pada 2008.

Selepas SMA, perjalanan hidup sempat mengarahkannya ke dunia hukum. Debby diterima kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namun, sekitar setahun menjalani perkuliahan, ia mengambil keputusan yang tidak mudah. Ia tinggalkan bangku kuliah.

Bukan karena tidak tertarik dengan dunia hukum. Sebaliknya. Ketertarikannya pada hukum menemukan jalan lain, langsung ke petugas penegak hukumnya, kepolisian.

Debby memilih mengikuti pendidikan Akademi Kepolisian (Akpol). Pada 2012, ia menyelesaikan pendidikan dan dilantik sebagai perwira Polri dengan pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda).

Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke almamater yang pernah ditinggalkannya, Universitas Gadjah Mada. Kali ini bukan lagi sebagai mahasiswa baru. Ia kembali untuk menyelesaikan pendidikan magister hukum dan memperoleh gelar Magister Hukum.

Ada lingkaran yang akhirnya kembali bertemu. Dulu, ia meninggalkan Fakultas Hukum UGM untuk mengejar cita-cita menjadi polisi. Setelah menjadi polisi, ia kembali ke tempat yang sama untuk memperdalam ilmu hukum.

Perjalanan karier seorang polisi tidak hanya ditentukan oleh pangkat dan jabatan. Ada penugasan di lapangan. Ada perkara yang harus diurai. Ada masyarakat yang harus dilayani. Ada pula keputusan-keputusan yang harus dipertanggungjawabkan.

Dalam perjalanan itu, Debby pernah berada pada posisi ketika kemampuannya dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Namun waktu memiliki caranya sendiri untuk menjawab keraguan itu.

Dari Yogyakarta, Jakarta, hingga Kepulauan Riau, Debby menjalani berbagai penugasan. Dunia penyidikan menjadi bagian penting dari perjalanan karirnya di kepolisian.

Di Batam, namanya semakin dikenal ketika dipercaya memimpin Satuan Reserse Kriminal Polresta Barelang. Sebagai Kasat Reskrim, ia berhadapan dengan berbagai perkara kriminal yang membutuhkan kecepatan sekaligus ketelitian.

Salah satu capaian yang mendapat apresiasi adalah keberhasilan mengungkap kasus tindak pidana pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal.

Perkara tersebut bukan sekadar persoalan penegakan hukum. Di baliknya ada warga negara yang berpotensi menjadi korban penempatan dan perekrutan ilegal.

Atas kinerja tersebut, Debby menerima penghargaan dari Kapolda Kepulauan Riau Irjen Pol Asep Safrudin. Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi institusi terhadap kinerja personel dalam mengungkap sejumlah perkara menonjol di wilayah hukum Kota Batam.

Kapolda Kepri ketika itu menekankan bahwa penghargaan merupakan bentuk pengakuan atas kerja keras personel sekaligus diharapkan menjadi motivasi untuk meningkatkan profesionalisme dan pelayanan kepada masyarakat.

Bagi Debby, penghargaan itu bukanlah garis akhir. Tapi justru menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang.

Sebagai wartawan J5NEWSROOM.COM, saya beruntung pernah mendapat kesempatan menjalani satu perjalanan tugas bersama Debby.

Kami berangkat dari Batam menuju Jakarta bersama AKP Zharfan Edmond, yang ketika itu masih menjabat sebagai Kanit Reskrim Polresta Barelang dan kini telah menjabat sebagai Kapolsek Kawasan Pelabuhan Batam.

Dua hari di Jakarta membuat kami memiliki cukup banyak waktu untuk berbincang. Bukan hanya tentang perkara kriminal. Kami juga berbicara mengenai keamanan dan ketertiban masyarakat di Kota Batam, dinamika penegakan hukum, hingga persoalan yang dihadapi masyarakat.

Salah satu pembicaraan yang cukup membekas bagi saya adalah mengenai guru. Kami berbicara tentang sejumlah guru di Batam yang dalam beberapa situasi harus menghadapi berbagai upaya pemerasan.

Pembicaraan itu terasa berbeda ketika datang dari seorang polisi yang ibunya seorang guru. Debby tentu memahami bahwa kehidupan seorang guru tidaklah selalu mudah.

Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Ada anak-anak yang harus disekolahkan. Ada tanggung jawab besar yang sering kali tidak sebanding dengan apa yang diterima. Mungkin karena itulah isu tersebut mendapat tempat tersendiri dalam percakapan kami.

Karier Debby terus bergerak naik. Dari seorang perwira muda lulusan Akpol 2012, ia dipercaya memegang jabatan yang semakin strategis. Kini ia mendapat kesempatan mengikuti Sespimmen Polri.

Namun, ada satu hal yang menurut saya tidak banyak berubah. Caranya berkomunikasi. Dalam komunikasi terakhir kami, Debby menyampaikan terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin selama ini.

Kalimatnya sederhana.

“Terima kasih atas kerjasamanya selama ini, saya jadi tambah ilmu,” ujar Debby.

Tidak ada kesan angkuh sama sekali dari seorang perwira yang karirnya sedang bergerak naik. Justru ada kerendahan hati untuk mengakui bahwa setiap perjumpaan dengan orang lain selalu membawa pelajaran.

Di akhir percakapan, ia juga meminta doa untuk perjalanan tugas dan pendidikannya. Bagi saya, kalimat itu lebih bermakna daripada sekadar ucapan perpisahan.

Sebab, perjalanan seorang polisi memang tidak pernah benar-benar selesai pada satu jabatan. Hari ini mungkin berada di Batam. Esok harus kembali ke ruang pendidikan. Setelah itu, akan ada tugas lain yang menunggu.

Kotabumi telah jauh ditinggalkan. Yogyakarta pernah menjadi tempat menimba ilmu. Jakarta menjadi bagian dari perjalanan tugas. Kepulauan Riau menjadi ruang pembuktian. Kini Sespimmen menjadi pintu berikutnya.

Dari seorang anak guru di Kotabumi, Debby sedang menulis bab bab kehidupan berikutnya dalam perjalanan pengabdiannya sebagai seorang polisi.

Semoga pendidikan yang akan dijalaninya bukan hanya menjadi tangga bagi karier, tetapi juga memperkuat pengabdiannya kepada masyarakat.

Sebab pada akhirnya, penegakan hukum bukan hanya tentang menangkap dan mengungkap. Ia juga tentang memahami, tentang mendengar, dan tentang menjadi manusia sejati.*

Editor: Alia Safira