Wawancara dengan Koordinator Jemaah Haji Aceh Jamaluddin Affan Asyi: Manfaat Wakaf Terus Mengalir untuk Warga Aceh di Tanah Makkah

Koordinator Jemaah Haji Aceh, Jamaluddin Affan Asyi bersama Dr. Syaikh Abdul Latif Baltu saat penyerahan dana manfaat wakaf untuk warga Aceh di Sektor 6 wilayah Jarwal, Selasa (12/5/2026). (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

J5NEWSROOM.COM, Makkah – Pada musim haji 2026 ini, 5.426 jemaah haji asal Aceh mendapat uang sebesar 2.000 riyal Saudi atau sekitar Rp 9,2 juta dari hasil pengelolaan wakaf aset peninggalan ulama asal Aceh, Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi atau yang dikenal sebagai Habib Bugak Asyi.

Wakaf tersebut telah berlangsung selama lebih dari 200 tahun dan hasil pengelolaannya terus disalurkan kepada masyarakat Aceh yang menunaikan ibadah haji. Selasa 12 Mesi 2026 lalu, Nazir Wakaf Baitul Asyi, Dr Syaikh Abdul Latif Muhammad Baltu, menyerahkan secara simbolis dana wakaf tersebut kepada jemaah haji asal Aceh di kawasan Jarwal, Makkah.

Bagaimana wakaf yang telah berlangsung lebih dari 200 tahun itu dikelola dan memberikan manfaat terus menerus bagi warga Aceh? Berikut ini wawancara Tim MCH (Media Center Haji) PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) 2026 dengan Koordinator Jemaah Haji Aceh Jamaluddin Affan Asyi.

Pewawancara:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pak Jamal. Kami ingin menanyakan bagaimana perjuangan para jemaah haji, khususnya dari Provinsi Aceh, untuk bisa sampai ke Tanah Suci. Padahal mereka baru saja diterpa cobaan berat berupa bencana. Namun akhirnya mereka tetap bisa berangkat haji. Apa yang bisa Bapak jelaskan terkait hal itu?

Jamaluddin Affan Asyi:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Saat terjadi bencana meteorologi di Aceh, kondisinya sangat luar biasa. Dari 23 kabupaten/kota, sebanyak 18 kabupaten/kota terdampak cukup parah. Banyak masyarakat kehilangan harta benda, contohnya di Aceh Tamiang.

Aceh Tamiang merupakan salah satu daerah dengan dampak paling berat. Di sana terdapat sekitar 150 calon jemaah haji. Pada tahap pelunasan pertama, hanya satu orang yang mampu melunasi biaya haji.

Kemudian saya bersama tim Kemenhaj ditugaskan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh untuk melakukan jemput bola dan merelokasi jemaah agar tetap bisa memenuhi syarat istitha’ah kesehatan.

Kami juga melakukan pendampingan terkait pelunasan, pemeriksaan kesehatan haji, hingga koordinasi dengan pihak perbankan. Semua dilakukan dengan sistem jemput bola.

Di Aceh Utara, misalnya, ada 18 paspor jemaah yang hanyut akibat banjir. Hampir setiap hari kami berjibaku bersama pemerintah daerah dan membuat laporan harian kepada Kemenhaj, Komisi VIII DPR RI, Gubernur Aceh, dan Wakil Gubernur.

Saat itu sempat muncul isu bahwa kuota haji daerah terdampak bencana akan dialihkan ke provinsi lain. Namun kami di Aceh benar-benar bekerja keras menjemput bola. Alhamdulillah, Aceh menjadi salah satu provinsi pertama yang memenuhi kuota haji, bahkan melebihi target nasional.

Untuk jemaah terdampak, kami berkoordinasi dengan pihak perbankan agar proses pelunasan dipermudah. Begitu juga dengan proses input data istitha’ah kesehatan. Banyak rumah sakit terdampak bencana sehingga alat dan infrastrukturnya rusak. Akhirnya pelayanan dialihkan ke daerah yang masih memiliki jaringan internet dan komunikasi yang memadai.

Yang paling menyentuh bagi saya adalah kondisi jemaah di Tamiang. Rumah mereka sudah tidak ada, tetapi mereka tetap ingin berhaji. Saya bahkan memiliki videonya. Saat ditanya, “Ibu tetap mau berangkat padahal rumah sudah tidak ada?” mereka menjawab, “Kami tetap berangkat haji karena ini panggilan Allah. Kami tidak mungkin menunda haji ini.”

Begitu besar semangat mereka.

Kami juga terus berkoordinasi dengan kesehatan haji Aceh dan Kapuskes Haji RI saat itu, Bapak Liliek, terkait perkembangan istitha’ah, pelunasan, dan sebagainya. Kami juga rutin berkomunikasi dengan Dirjen Haji. Jadi koordinasi dilakukan dari tingkat kabupaten/kota hingga pusat.

Pewawancara:

Berapa jumlah jemaah haji Aceh yang akhirnya bisa berangkat tahun ini?

Jamaluddin Affan Asyi:

Tahun ini Aceh mendapatkan kuota sebanyak 5.426 jemaah haji, di luar petugas. Total ada 14 kloter dan setiap kloter memiliki empat petugas.

Pewawancara:

Dari jumlah tersebut, berapa persen yang terdampak bencana?

Jamaluddin Affan Asyi:

Hampir 70 persen, karena 18 kabupaten/kota terdampak bencana meteorologi. Yang tidak terdampak hanya Banda Aceh dan Aceh Besar. Daerah lain seperti Takengon, Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Bireuen semuanya terdampak.

Jemaah haji dari Aceh penerima pemberian manfaat wakaf sebesar 2.000 riyal dari Nazir Waqaf Bugak Asyi di Sektor 6 wilayah Jarwal, Makkah, Selasa (12/5/2026). (Foto: MCH PPIH Arab Saudi 2026)

Pewawancara:

Berapa kloter yang sudah diberangkatkan dan sudah tiba di Makkah?

Jamaluddin Affan Asyi:

Aceh mendapat mayoritas pemberangkatan gelombang kedua. Namun ada satu kloter gelombang pertama yang berangkat ke Madinah pada 6 Mei, yaitu kloter dari Banda Aceh.

Saat ini yang sudah berada di Makkah adalah kloter BTJ 02, BTJ 03, BTJ 04, dan BTJ 05. Setiap kloter terdiri dari 393 jemaah.

Pewawancara:

Banyak dokumen jemaah yang hilang atau hanyut akibat banjir. Bagaimana penanganannya?

Jamaluddin Affan Asyi:

Sebagian besar dokumen memang hilang. Banjir datang tiba-tiba sehingga masyarakat tidak sempat menyelamatkan barang-barang mereka.

Rumah orang tua saya sendiri di Pedada, Bireuen, terendam hingga tiga meter. Barang-barang harus dipindahkan sampai ke plafon rumah.

Kami lalu berkoordinasi dengan pihak Imigrasi agar proses pengurusan dokumen dipermudah. Bahkan petugas Imigrasi turun langsung ke warung-warung kopi yang memiliki akses internet untuk melakukan jemput bola pendataan.

Saya menyaksikan sendiri petugas dari Banda Aceh turun ke lapangan untuk membantu masyarakat merekap data dan mengurus paspor.

Pewawancara:

Apakah ada kendala administrasi seperti KTP atau KK yang hilang?

Jamaluddin Affan Asyi:

Kami berkoordinasi dengan Dukcapil mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga desa. Semua dipermudah.

Karena banyak dokumen hilang, masyarakat tidak lagi diwajibkan membawa surat-surat lengkap. Cukup sidik jari dan data dasar, seluruh informasi langsung muncul di sistem. Bahkan dalam beberapa kasus, pengurusan paspor tidak lagi memerlukan KK.

Semua pihak benar-benar bekerja keras saat itu.

Pewawancara:

Kami juga mendengar ada pembagian dana wakaf untuk jemaah Aceh tahun ini. Bisa dijelaskan?

Jamaluddin Affan Asyi:

Ini merupakan tahun ke-20 pembagian wakaf untuk jemaah haji Aceh. Wakaf tersebut berasal dari Wakaf Habib Bugak Asyi yang usianya sudah lebih dari 250 tahun, bahkan sejak masa Kesultanan Turki Utsmani.

Dulu para jemaah Aceh yang datang ke Makkah melalui jalur laut mengumpulkan dana untuk membeli tempat tinggal di Makkah. Aset awalnya berada di kawasan Qusyasyiyah yang sekarang sudah menjadi area perluasan Masjidil Haram.

Kemudian Kerajaan Arab Saudi memberikan kompensasi berupa lahan di kawasan Ajyad. Dari sana berkembang menjadi sejumlah aset wakaf produktif seperti hotel dan properti lainnya.

Saat ini wakaf dikelola oleh Nazir Wakaf, Dr Abdurrahman Abdullah Asyi, bersama Dr Abdul Lathif Muhammad Baltu.

Alhamdulillah, dalam dua tahun terakhir seluruh aset wakaf sudah kembali sepenuhnya kepada pihak wakaf dan tidak lagi berada di tangan investor. Karena itu, mulai tahun lalu hasil wakaf dibagikan kepada jemaah haji Aceh sebesar 2.000 riyal per orang, termasuk petugas asal Aceh.

Pembagian dilakukan langsung setelah salat Asar di musala hotel. Dana diberikan secara tunai dan dicatat berdasarkan nomor jemaah.

Pewawancara:

Apa harapan Bapak ke depan bagi jemaah haji Aceh?

Jamaluddin Affan Asyi:

Harapan kami, ke depan Pemerintah Aceh dapat membentuk Badan Haji Aceh atau UPTD khusus haji Aceh bekerja sama dengan kementerian. Hal itu dimungkinkan karena Aceh memiliki kekhususan berdasarkan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA).

Kami juga berharap wakaf ini terus berlanjut hingga hari kiamat sebagaimana amanah wakaf itu sendiri.

Selain itu, ke depan kami berharap dana wakaf tidak lagi dibagikan secara tunai di Arab Saudi, tetapi langsung dikirim ke rekening jemaah di Aceh agar lebih bermanfaat, terutama bagi mereka yang terdampak musibah.

Pewawancara:

Terakhir, apakah ada kaitannya antara Aceh dan sebutan “Serambi Makkah”?

Jamaluddin Affan Asyi:

Tentu ada. Islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui Aceh. Dulu pelabuhan haji Nusantara juga berada di Aceh, tepatnya di Sabang.

Banyak masyarakat Aceh yang bermukim di Arab Saudi dan menjadi bagian penting dalam pengelolaan haji maupun wakaf. Bahkan ada tokoh keturunan Aceh yang pernah menjadi pejabat penting di bidang haji dan kesehatan di Arab Saudi.

Budaya Aceh dan Arab juga memiliki banyak kesamaan. Karena itulah Aceh dikenal sebagai Serambi Makkah.

Editor: Saibansah Dardani