
J5NEWSROOM.COM, Tepi Barat – Pada Jumat pagi 24 Juli 2026, Kota Tal yang terletak di sebelah barat daya Nablus tidak sekadar menjadi lokasi serangan para pemukim Israel.
Hari itu, warga menyaksikan sebuah peristiwa yang oleh banyak orang disebut sebagai kisah heroik, diperankan oleh seorang pemuda Palestina yang tidak bersenjata.
Di tengah kepulan asap dan rentetan peluru yang diarahkan ke warga Palestina, Farouq Adnan Ali Ramadan tampil dengan keberanian luar biasa dan menghadirkan salah satu momen paling menonjol dalam sejarah perlawanan rakyat di Tepi Barat.
Peristiwa bermula ketika sekelompok pemukim menyerang kawasan timur Kota Tal. Warga setempat segera menghadang dan memaksa mereka mundur.
Namun sekitar setengah jam kemudian, para pemukim kembali dengan dukungan kendaraan militer Israel dan menyerbu kawasan barat kota yang berdekatan dengan pos pemukiman ilegal Havat Gilad.
Bentrokan pun pecah, disertai perkelahian jarak dekat antara warga sipil Palestina yang tidak bersenjata dan para pemukim yang membawa senjata.
Di tengah situasi yang sangat genting itu, ketika tembakan dilepaskan secara membabi buta ke arah warga, Farouq Ramadan maju tanpa ragu.
Dilansir Aljazeera, Ahad (26/7/2026) ia menerobos hujan peluru dan langsung berhadapan dengan salah seorang petugas keamanan pemukim yang bertugas menjaga pos pemukiman tersebut.
Dalam perkelahian singkat dari jarak sangat dekat, Farouq berhasil merebut senapan otomatis yang berada di tangan penjaga itu.
Keberanian Farouq tidak berhenti sampai di situ. Setelah melucuti lawannya, ia segera berbalik menghadapi sumber tembakan dan melepaskan tembakan ke arah para pemukim serta pasukan Israel sebagai upaya membela Kota Tal dan warganya.
Menurut laporan yang beredar, dalam insiden tersebut seorang perwira Israel berpangkat mayor dan seorang prajurit dari Brigade Yerusalem dilaporkan tewas, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka. Kejadian itu disebut menyebabkan kepanikan dan kekacauan di pihak pasukan yang menyerang.
Peristiwa yang mengguncang aparat keamanan Israel itu kemudian diikuti pengerahan pasukan tambahan dalam jumlah besar. Kota Nablus ditutup dan diberlakukan pembatasan ketat terhadap pergerakan warga.
Pasukan Israel juga dilaporkan melepaskan tembakan secara intensif dan acak ke berbagai arah. Dalam situasi tersebut, Farouq Ramadan gugur.
Namun kisah keberanian itu tidak hanya ditulis oleh Farouq seorang diri. Bersamanya, tiga kerabat dekat sekaligus sepupunya turut gugur saat berusaha mempertahankan kampung halaman mereka.
Mereka adalah Imran Ahmad Ali Ramadan, Ibrahim Hussein Ali Ramadan, dan Jawad Hussein Ali Ramadan.
Dengan demikian, empat anggota dari satu keluarga meninggal dalam peristiwa yang sama saat menghadapi serangan tersebut.
Keberanian Farouq Ramadan disebut memicu kekhawatiran di kalangan politik dan keamanan Israel.
Menurut laporan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama sejumlah menteri menggelar pertemuan darurat untuk membahas perkembangan situasi.
Militer Israel kemudian mengumumkan pengerahan batalion tambahan ke wilayah Tepi Barat serta memperketat pengamanan di Nablus dan Tal.
Pasukan Israel juga dilaporkan melakukan penggerebekan ke Rumah Sakit Spesialis Nablus.
Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut tengah bersiap melaksanakan operasi keamanan yang lebih luas di Tepi Barat.
Mereka juga mengumumkan pembatalan cuti prajurit serta penambahan jumlah pasukan yang ditempatkan di berbagai wilayah Tepi Barat.
Farouq Adnan Ramadan dan tiga sepupunya telah tiada. Namun peristiwa yang terjadi di Tal meninggalkan jejak mendalam bagi warga kota tersebut dan masyarakat Palestina di Tepi Barat.
Kisah keberanian mereka dipandang sebagai salah satu peristiwa yang akan terus dikenang, sementara dampaknya diyakini akan menjadi bahan perhatian panjang bagi pihak Israel.
Sumber: Republika
Editor: Agung
