
J5NEWSROOM.COM, Pembahasan mengenai program Makan Bergizi Gratis atau MBG terus menjadi sorotan, terutama terkait dampaknya terhadap fiskal negara di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pengamat kebijakan publik Fakhrido Susilo menilai bahwa kondisi ekonomi dunia tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan program sosial yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Ia mengatakan, “Dinamika ekonomi global ini tidak hanya dirasakan Indonesia. Seluruh negara di dunia juga menempuh ini, tapi tetap ada tanggung jawab sosial negara yang harus dipenuhi dan mereka tidak menghentikan program midday meal-nya.”
Menurut Fakhrido, pemerintah memiliki berbagai instrumen kebijakan yang dapat digunakan untuk mengelola risiko ekonomi tanpa harus mengorbankan program MBG. Ia menegaskan, “Saya pikir ada banyak instrumen kebijakan yang bisa ditawarkan pemerintah untuk bisa memitigasi atau mengatasi dinamika ekonomi, tanpa harus mengorbankan MBG.” Ia juga menyoroti kondisi banyak orang tua yang memiliki lebih dari satu pekerjaan sehingga perhatian terhadap asupan gizi anak sering kali terbatas. “Adanya MBG justru meringankan beban orang tua, memastikan anak mendapatkan asupan berkualitas tanpa mengganggu produktivitas kerja mereka,” ujarnya.
Secara jangka panjang, Fakhrido memandang MBG sebagai investasi penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia. Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga kualitas manusia yang akan mengelolanya. “Jika kita punya jalan tol yang luas tapi manusianya tidak berkualitas, bagaimana kita mau bersaing di 2045?” katanya. Ia juga mengingatkan pentingnya tata kelola yang transparan dan evaluasi berbasis riset independen agar program berjalan efektif serta akuntabel.
Sementara itu, ahli gizi dr. Rita Ramayulis menilai MBG berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi lokal jika dijalankan dengan pendekatan pangan berbasis daerah. Ia menyampaikan, “Kehadiran program MBG ini sebenarnya untuk mendekatkan dan memudahkan akses ke makanan bergizi.” Menurutnya, pemanfaatan pangan lokal tidak hanya meningkatkan variasi gizi anak, tetapi juga membuka peluang kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. “Kalau kita fokus pada pangan lokal, aneka ragam pangan anak meningkat, lapangan pekerjaan dan pendapatan penduduk pun tentu ikut naik. Jadi efek ekonominya nyata,” jelasnya.
Dengan strategi yang tepat serta pengelolaan yang transparan, program MBG dinilai mampu menjawab kebutuhan sosial sekaligus memberikan dampak ekonomi positif. Para pengamat berharap pemerintah terus melakukan evaluasi berkala agar manfaat program dapat dirasakan secara luas tanpa menimbulkan tekanan berlebihan pada keuangan negara.
Editor: Agung
