Sketsa Haji: Lorong Cinta

Jamaah haji Indonesia bersama pasangan memanfaatkan lorong hotel sebagai tempat melepas rindu dan berbagi kebersamaan di Tanah Suci.

Oleh H. Ramon Damora

J5NEWSROOM.COM – Oleh sebab aturan hotel, para jama’ah haji tak selalu bisa menikmati kemewahan paling sederhana dalam sebuah pernikahan, yakni duduk berdua di satu kamar. Lelaki ditempatkan bersama empat atau lima lelaki lain. Perempuan pun demikian. Maka, di sela-sela pintu-pintu kamar yang berjajar panjang itu, lahirlah sebuah ruang yang tak pernah tercantum dalam denah hotel. Lorong cinta.

Setiap pagi, ketika sarapan dibagikan. Setiap siang dan malam, tatkala kotak-kotak makanan diturunkan dari troli petugas. Di lorong itu, pasangan-pasangan suami istri datang perlahan. Ada yang membawa teh hangat, kopi, juadah nusantara yang dijual pedagang Arab di seberang hotel, ada yang menggenggam ponsel, ada pula yang sekadar membawa diri sambil menunggu waktu shalat tiba.

Mereka duduk bersisian di lantai marmer yang dingin. Tak ada meja makan. Tak ada sofa. Tak ada privasi. Namun di situlah kiranya kehangatan menemukan bentuknya yang paling jujur. Percakapan mereka mungkin biasa saja. Menanyakan kesehatan. Mengingatkan jadwal ibadah. Membahas anak dan cucu yang ditinggalkan di kampung halaman. Atau sekadar diam sambil menikmati kebersamaan yang sejenak.

Di usia yang tak lagi muda, cinta rupanya tak selalu membutuhkan kata-kata besar. Cinta hadir dalam pertanyaan sederhana: “sudah makan?” Cinta bersembunyi dalam kotak nasi yang dibuka berdua. Cinta menjelma dalam tatapan yang memastikan pasangannya masih kuat menjalani rangkaian ibadah yang panjang.

Di tanah air, barangkali mereka telah puluhan tahun hidup serumah. Bertemu setiap hari. Tidur di ranjang yang sama. Namun di Tanah Suci, jarak beberapa pintu kamar saja tiba-tiba membuat perjumpaan menjadi sesuatu yang dinanti. Di sini, segala yang ditunggu selalu terasa lebih berharga.

Lorong itu sesungguhnya sempit. Hanya koridor penghubung antar kamar. Tempat orang lalu-lalang. Tempat ransel bersandar dan galon air ditaruh sementara. Tetapi bagi para jama’ah Kloter 25 Embarkasi Batam, lorong tersebut telah berubah fungsi menjadi ruang keluarga, ruang rindu, sekaligus ruang cinta. Tiada papan nama yang menandainya.

Namun semua orang tahu: di sana para suami menunggu istrinya datang, para istri mencari wajah yang telah puluhan tahun menjadi teman hidupnya. Di sana cinta yang telah menua tampak semakin muda. Inilah salah satu rahasia keindahan berhaji bersama pasangan. Ketika jutaan manusia datang memenuhi panggilan Allah, ketika seluruh perhatian tercurah kepada ibadah, ternyata cinta antarsuami dan istri tidak hilang. Cintanya hanya berubah bentuk. Menjadi lebih tenang. Lebih teduh. Lebih matang. In syaa Allah.

Maka para jama’ah menamainya dengan sederhana, nyaris tanpa kesepakatan resmi: lorong cinta. Sebuah koridor biasa yang, selama musim haji, menjadi saksi bahwa perjalanan menuju Allah sering kali membuat manusia semakin dekat dengan pasangan yang dicintainya.*

Penulis adalah Jemaah Haji Indonesia asal Batam Provinsi Kepulauan Riau yang juga Pengurus PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat.

Editor: Agung