
J5NEWSROOM.COM, Madinah – Langkah-langkah Mutiara Daru Nur Islam dan suaminya, Agung Azan Nugroho, melambat ketika memasuki pelataran Masjid Nabawi pada suatu pagi. Di tengah ribuan peziarah yang datang dari berbagai penjuru dunia, pasangan asal Jakarta itu memilih berjalan berdampingan, menikmati setiap detik di Kota Nabi.
Bukan hanya ibadah yang mereka cari.
Di kota yang menjadi tujuan jutaan Muslim setiap tahun itu, keduanya justru menemukan sesuatu yang tak pernah mereka rencanakan sebelumnya: waktu untuk kembali saling mengenal.
“Kami baru menyadari, ternyata selama ini sangat jarang benar-benar punya waktu bersama,” kata Mutiara sambil tersenyum saat ditemui di Madinah.
Kesibukan pekerjaan membuat pasangan berusia 42 tahun itu lebih sering bertemu dalam rutinitas daripada percakapan yang utuh. Mutiara bekerja sebagai profesional di bidang psikologi, sementara Agung berkarier di SKK Migas. Hari-hari mereka di Jakarta berjalan cepat, dipenuhi rapat, perjalanan, dan urusan rumah tangga.
Baru setelah berada di Tanah Suci, ritme itu melambat.
Di sela-sela waktu menunggu shalat berjemaah di Masjid Nabawi, ketika berjalan menuju hotel, atau saat beristirahat setelah rangkaian ibadah, mereka mulai membicarakan banyak hal yang selama ini tertunda.
Mulai dari kehidupan keluarga, cara mendidik anak, hingga impian yang ingin mereka bangun setelah kembali ke Indonesia.
“Biasanya setiap tahun kami merencanakan liburan keluarga. Sekarang kami berdiskusi, bagaimana kalau mulai menabung agar suatu saat bisa umrah bersama keluarga,” ujar Mutiara.
Setiap musim haji, jutaan Muslim berkumpul di Arab Saudi untuk menunaikan rukun Islam kelima. Indonesia sendiri kembali menjadi negara dengan kuota haji terbesar di dunia, yakni lebih dari 220.000 jemaah pada musim haji 2026.
Di antara lautan manusia itu, pasangan yang berangkat pada usia produktif seperti Mutiara dan Agung bukanlah mayoritas. Sebagian besar jemaah Indonesia berusia lanjut karena panjangnya masa tunggu keberangkatan yang di sejumlah daerah bisa mencapai puluhan tahun.
Karena itu, mereka menyadari memiliki keuntungan tersendiri.
Selain kondisi fisik yang masih prima, keduanya juga terbantu oleh banyaknya informasi yang kini tersedia melalui media sosial dan berbagai kanal edukasi haji.
“Persiapan kami jadi lebih matang karena banyak belajar sebelumnya,” kata Mutiara.
Salah satu perlengkapan yang menurutnya sangat membantu adalah membawa kantong urine untuk digunakan saat puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Perlengkapan sederhana itu ternyata belum banyak disiapkan sebagian jemaah lanjut usia.
Keuntungan usia muda juga dirasakan Agung.
Sebagai Ketua Regu Kloter JKS 25 asal DKI Jakarta, ia harus membantu mengoordinasikan sebagian besar anggota rombongan yang berusia di atas 60 tahun. Di sinilah kehadiran istrinya menjadi kekuatan tersendiri.
“Kalau ada urusan logistik atau kebutuhan teman-teman, kami bisa langsung berbagi tugas. Jadi semuanya lebih cepat,” kata Agung.
Kerja sama itu terasa paling penting ketika memasuki fase Armuzna, saat jutaan jemaah bergerak hampir bersamaan menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Dalam situasi yang padat dan dinamis, komunikasi yang cepat menjadi kunci pelayanan.
“Kami tinggal saling memberi kode. Saya mengurus satu hal, istri mengurus yang lain,” ujarnya.
Masjid Nabawi menjadi saksi banyak percakapan mereka.
Masjid yang dibangun langsung oleh Nabi Muhammad SAW setelah hijrah ke Madinah itu kini menjadi salah satu masjid terbesar di dunia dengan luas kawasan lebih dari 1 juta meter persegi dan mampu menampung lebih dari satu juta jamaah pada waktu-waktu tertentu.
Siang dan malam, halaman masjid nyaris tak pernah sepi. Ribuan orang datang untuk beribadah, berdoa di Raudhah, atau sekadar duduk menikmati ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di tengah suasana itulah Agung merasa sedang belajar sesuatu yang baru.
Bukan tentang manasik.
Melainkan tentang dirinya sendiri.
“Saya baru sadar, selama ini mungkin cara saya menyampaikan sesuatu sering kurang tepat meskipun niatnya baik,” katanya.
Selama berhaji, hampir semua keputusan mereka ambil bersama. Tidak ada ruang bagi ego untuk mendominasi. Kelelahan fisik, cuaca panas, dan padatnya aktivitas justru memaksa mereka lebih banyak saling memahami.
“Sebelumnya mungkin ego saya tinggi, begitu juga istri. Di sini kami belajar berdamai dengan keadaan,” ujarnya.
Bagi Mutiara, inilah hikmah yang tidak pernah ia bayangkan sebelum berangkat.
Ia meyakini haji bukan sekadar perjalanan ritual yang selesai ketika thawaf, sa’i, atau melontar jumrah telah ditunaikan.
Ada perjalanan batin yang justru dimulai setelahnya.
“Haji membuat kami lebih sadar untuk menjaga sikap kepada pasangan. Hal-hal yang bisa memicu perselisihan jadi berusaha kami minimalkan,” katanya.
Sebagai lulusan Psikologi Universitas Gadjah Mada, Mutiara percaya hubungan suami istri bukan hanya dibangun melalui komunikasi, tetapi juga melalui pengalaman bersama. Dan perjalanan haji, menurutnya, menjadi ruang yang sangat langka untuk itu.
Kini, menjelang kepulangan ke Tanah Air, keduanya tidak hanya membawa selembar sertifikat telah berhaji.
Mereka membawa cara pandang baru tentang rumah, tentang keluarga, dan tentang bagaimana menjadi pasangan yang lebih baik.
Di Kota Nabi, mereka datang sebagai suami dan istri yang menunaikan rukun Islam kelima.
Mereka pulang sebagai dua orang yang belajar kembali berjalan berdampingan.*
Editor: Saibansah Dardani
