Jalan Terpendek Keluar dari Lingkar Masalah adalah Memotong, Bukan Mengitari

Ilustrasi artikel Maulana tentang ‘Mengitari’. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

Oleh Maulana

J5NEWSROOM.COM – “Sungguh, aku melihat air yang tergenang itu merusaknya… Jika mengalir, ia menjadi baik; dan jika tidak mengalir, ia tidak menjadi baik.” (Imam As Syafi’i 767-820)

“Berhenti, tak ada tempat di jalan ini, sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak merekalah yang akan maju ke muka. Mereka yang menunggu, meski hanya sekilas, pasti tergilas.” (Muhammad Iqbal 1877-1938)

“Yang kupikirkan adalah, apa yang telah terjadi pada gadis ini sampai membuatnya merasa bahwa dia tidak punya jalan keluar?” (Jack Dawson “TITANIC”)

Bayangkan Anda berdiri di tepi sebuah lingkaran raksasa. Di seberang Anda ada jalan keluar. Ada dua pilihan: mengikuti lengkungan lingkaran yang panjang, atau melangkah lurus memotong garis tengahnya. Pilihan ketiga tidak kita pakai karena sudah dilarang oleh syair Imam Syafii dan Sir Muhammad Iqbal di atas, serta sedikit dari film Titanic.

Secara matematis, jawabannya sederhana. Diameter selalu lebih pendek daripada setengah keliling. Tetapi dalam kehidupan, kita justru sering memilih jalan memutar. Kita berjalan di tepian masalah, berpindah dari satu alasan ke alasan lain, berharap keadaan berubah dengan sendirinya. Padahal, jalan keluar mungkin berada tepat di tengah persoalan.

Alasannya, karena mengitari terasa lebih aman. Menghindari konfrontasi terasa lebih nyaman daripada percakapan jujur. Menunda keputusan terasa lebih ringan daripada menerima konsekuensinya. Menyalahkan keadaan membuat kita tidak perlu mengakui bagian yang menjadi tanggung jawab kita.

Kita bisa sangat sibuk tanpa benar-benar bergerak. Di situlah muncul ilusi yang menipu: bergerak terasa seperti kemajuan. Padahal berputar adalah berjalan di sekitar tempat. Kita bisa mengulang pola yang sama, bertemu persoalan yang sama, bahkan dengan orang dan keadaan yang berbeda, tetapi tetap berada di lingkaran yang sama.

Memotong Bukan Berarti Melarikan Diri

Memotong garis tengah berarti menghadapi inti masalah secara langsung. Bukan hanya gejalanya, bukan pinggirannya, melainkan akarnya.

Jika masalahnya adalah komunikasi yang rusak, potonglah dengan percakapan yang jujur, bukan dengan menghindar dan berharap semuanya membaik sendiri. Kika masalahnya adalah utang, potonglah dengan mengakui angka sebenarnya dan menyusun rencana, bukan dengan berutang lagi untuk menutupi utang lama.

Jika masalahnya adalah kebiasaan buruk, potonglah dengan mengambil langkah nyata hari ini, bukan dengan terus mengulang janji “mulai besok”. Jika pekerjaan sudah tidak sehat bagi kehidupan, jangan hanya mengeluh bertahun-tahun. Hadapi persoalannya: apa yang harus diubah, apa yang harus dipersiapkan, dan keputusan apa yang harus diambil.

Memotong memang tidak selalu mudah. Bahkan sering kali menyakitkan. Ia menuntut kejujuran, keberanian, dan kesediaan menanggung konsekuensi.

Namun ada perbedaan penting: memotong bukan berarti selalu memilih jalan tercepat. Memotong berarti berhenti menghindari inti persoalan. Kadang jalan lurus tetap panjang. Tetapi kita setidaknya tahu ke mana sedang berjalan.

Harga dari Mengitari

Setiap hari yang kita habiskan untuk mengitari masalah adalah bagian hidup yang tidak bisa dikembalikan. Waktu berjalan tanpa menunggu kesiapan kita. Peluang yang lewat tidak selalu kembali. Sementara masalah yang terus dihindari sering kali tidak mengecil. Ia justru tumbuh karena dibiarkan.

Utang bertambah karena bunga berjalan. Hubungan memburuk karena percakapan yang terus ditunda. Kebiasaan buruk mengakar karena terus diberi toleransi. Luka batin bisa menjadi semakin berat ketika tidak pernah benar-benar dihadapi.

Mengitari memberi kita rasa aman palsu. Kita merasa belum mengambil keputusan, sehingga seolah-olah belum menanggung risiko. Padahal tidak mengambil keputusan pun merupakan keputusan: keputusan untuk membiarkan keadaan berjalan seperti adanya. Yang mahal bukan hanya kesalahan. Kadang yang jauh lebih mahal adalah penundaan.

“Waktu Akan Menyembuhkan”: Benar, tetapi Separuh

Ada satu kalimat yang sering kita gunakan untuk menenangkan diri: “Nanti juga waktu akan menyembuhkan.” Kalimat itu bisa benar, tetapi hanya separuh.

Waktu tidak menyembuhkan apa pun dengan sendirinya. Waktu hanya berjalan. Yang menentukan adalah apa yang kita lakukan di dalam waktu itu. Jika kita hanya menunggu, waktu justru dapat menjadi bagian dari lingkar masalah. Kita berkata, “Nanti juga membaik,” sementara tidak melakukan apa-apa untuk memperbaikinya.

Namun tidak semua persoalan harus dipaksa selesai secepat mungkin. Di sinilah kita perlu membedakan dua jenis persoalan.

Pertama, masalah yang membutuhkan keputusan.

Utang, pekerjaan yang merusak kehidupan, hubungan yang destruktif, atau kebiasaan yang terus merugikan membutuhkan tindakan. Dalam persoalan seperti ini, penundaan sering kali memperbesar harga yang harus dibayar. Kedua, luka yang membutuhkan proses.

Duka, kehilangan, patah hati, dan pengalaman traumatis tidak selalu dapat diselesaikan dengan satu keputusan. Ada bagian kehidupan yang memang membutuhkan waktu.

Tetapi waktu yang dibutuhkan bukanlah waktu pasif. Kita perlu mengakui rasa sakit, memberi ruang untuk berduka, mencari pertolongan ketika diperlukan, memahami apa yang terjadi, dan perlahan menemukan cara untuk hidup kembali.

Dengan demikian, bahkan pada luka yang membutuhkan waktu, prinsip “memotong” tetap berlaku. Kita memotong pengingkaran. Kita berhenti berpura-pura bahwa tidak terjadi apa-apa. Kita berhenti berlari dari rasa sakit dengan kesibukan tanpa akhir. Kita masuk ke dalamnya, merasakannya, lalu perlahan melewatinya. Bukan melompati luka, melainkan berjalan menembusnya.

Sembuh Bukan Berarti Lupa

Sembuh juga tidak selalu berarti melupakan. Bekas luka mungkin tetap ada. Kenangan mungkin tidak hilang. Tetapi kita tidak lagi dikendalikan olehnya. Sembuh bukan berarti tidak menangis ketika mengingat. Sembuh berarti ingatan itu tidak lagi menghancurkan kehidupan kita. Karena itu, waktu dapat menjadi sahabat atau sekadar lingkaran yang terus berputar.

Jika kita menggunakannya untuk menghindar, waktu hanya memperpanjang jarak antara kita dan penyelesaian. Jika kita menggunakannya untuk menghadapi, waktu menjadi ruang untuk tumbuh. Waktu bukan dokter. Waktu adalah ruang untuk menjalani proses. Waktu bukan jaminan kesembuhan; ia hanya memberi kesempatan.

Yang menentukan bukan semata-mata berapa lama waktu berlalu, tetapi apa yang kita lakukan selama waktu itu berjalan. Menunggu tanpa bergerak hanyalah mengitari lingkaran dengan nama yang lebih sopan.

Belajar Memotong

Lalu bagaimana memulainya?

Pertama, tanyakan: apa sebenarnya inti masalahnya?

Singkirkan lapisan alasan, pembenaran, dan kambing hitam. Cari akar yang selama ini mungkin sengaja kita hindari.

Kedua, hadapi rasa takut.

Ketakutan yang dihadapi sering kali menjadi lebih kecil. Ketakutan yang terus dihindari justru dapat tumbuh menjadi lebih besar daripada persoalan sebenarnya.

Ketiga , ambil satu tindakan nyata.

Tidak harus keputusan besar. Satu percakapan. Satu pengakuan. Satu angka yang berani kita lihat. Satu kebiasaan yang mulai dihentikan. Satu langkah yang selama ini terus ditunda.

Keempat , terima bahwa tindakan yang benar tidak selalu terasa nyaman.
Ada rasa sakit yang harus dibayar sekarang agar kita tidak membayar penderitaan yang lebih mahal di kemudian hari.

Dan terakhir , berhenti menunggu waktu yang sempurna.

Waktu sempurna hampir tidak pernah datang. Yang ada adalah waktu yang sedang kita miliki: sekarang.

Berhenti Mengitari

Lingkaran masalah tidak akan selesai hanya karena kita berjalan lebih cepat di tepinya. Kita bisa berlari. Kita bisa sibuk. Kita bisa berganti tempat, berganti pekerjaan, berganti lingkungan, bahkan berganti orang. Tetapi jika akar persoalannya tidak pernah disentuh, kita mungkin hanya mengulangi lingkaran yang sama dalam bentuk yang berbeda.

Jalan keluar tidak selalu berada di tempat yang nyaman. Kadang ia berada tepat di tengah ketakutan yang selama ini kita hindari. Karena itu, memotong bukan tindakan nekat. Memotong adalah keberanian untuk melihat persoalan sebagaimana adanya, lalu mengambil langkah yang memang diperlukan.

Berputar adalah berjalan di sekitar tempat.

Kita boleh berjalan perlahan. Kita boleh berhenti untuk menarik napas. Kita bahkan boleh membutuhkan waktu yang panjang. Tetapi jangan sampai seluruh hidup dihabiskan untuk mengitari sesuatu yang sebenarnya harus kita hadapi. Sebab pada akhirnya, kebebasan tidak ditemukan di tepian. Ia ditemukan di tengah-tengah keberanian untuk menghadapi.

Palembang, 13 Oktober 2026

Penulis adalah pemerhati masalah sosial-politik, alumni Ponpes TMI Al Amien Prenduan Sumenep Madura