Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Tengah Kelindan Era Digital

Ilustrasi artikel Heri Isnaini tentang pembelajaran bahasa dan sastra. (Foto: Dibuat AI)

Oleh Heri Isnaini

J5NEWSROOM.COM – Pembelajaran bahasa dan sastra berhadapan dengan perubahan yang tidak cukup dijawab melalui pergantian media ajar. Layar yang menyala di telapak tangan peserta didik telah menjadi ruang membaca, menulis, bertukar pendapat, dan membangun representasi diri. Mereka berjumpa dengan teks dalam bentuk pesan singkat, linimasa, video, gim, hingga jawaban yang dihasilkan oleh kecerdasan artifisial (AI).

Kelindan pengalaman itu memasuki ruang kelas dan mengubah cara peserta didik memperoleh informasi, memahami bahasa, serta menafsirkan cerita. Oleh sebab itu, persoalan utama pembelajaran bukan sekadar menggunakan teknologi, melainkan merancang pengalaman belajar yang membuat peserta didik mampu berpikir kritis, membaca dengan cermat, dan menulis dengan kesadaran.

Kelas tidak lagi menjadi satu-satunya ruang perjumpaan dengan pengetahuan. Sebelum guru memulai pelajaran, peserta didik mungkin telah membaca komentar, menonton video penjelasan, menyimak siniar (*podcast*), atau mencari jawaban melalui mesin pencari dan AI. Pengalaman tersebut dapat menjadi modal belajar, tetapi juga menyisakan kebiasaan membaca secara terpotong-potong.

Tugas guru ialah menghubungkan pengetahuan yang datang dari berbagai kanal dengan proses belajar yang terarah, mulai dari menetapkan tujuan, mengajukan pertanyaan, memeriksa sumber, hingga membangun pemahaman secara bertahap.

Dalam pembelajaran bahasa, perubahan paling mudah diamati melalui praktik berkomunikasi peserta didik. Bahasa digital tumbuh melalui singkatan, emoji, istilah viral, serta percampuran bahasa dalam satu percakapan. Ungkapan seperti berikut dapat dijadikan bahan pengamatan kebahasaan di kelas:

“Aku literally capek banget hari ini.”

atau

“Gaskeun, bestie!”

Ungkapan tersebut tidak perlu langsung diposisikan sebagai bentuk bahasa yang keliru. Guru dapat mengajak peserta didik mengamati siapa penuturnya, kepada siapa pesan disampaikan, dalam situasi apa ungkapan digunakan, dan efek apa yang hendak dibangun.

Dari sana, peserta didik memahami bahwa pilihan bahasa berkaitan dengan konteks, tujuan, dan relasi sosial. Pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika kaidah bahasa dipelajari melalui penggunaan nyata, bukan hanya melalui hafalan definisi.

Pembelajaran bahasa perlu melatih kecakapan memilih ragam bahasa yang sesuai. Ungkapan santai yang tepat dalam percakapan dengan teman belum tentu sesuai untuk esai akademik, laporan, atau surat resmi. Guru dapat meminta peserta didik mengubah satu pesan digital menjadi beberapa bentuk teks berdasarkan tujuan dan pembacanya.

Latihan semacam ini menumbuhkan kesadaran terhadap ragam bahasa, ketepatan diksi, keefektifan kalimat, serta kemampuan menyunting tulisan sendiri.

Literasi digital juga perlu hadir sebagai bagian dari kegiatan membaca. Peserta didik tidak cukup hanya diminta menemukan gagasan utama. Mereka perlu menilai kredibilitas sumber, membedakan fakta dan opini, mengenali sudut pandang, serta memeriksa cara bahasa membentuk kesan.

Kegiatan membaca kritis dapat dimulai dengan membandingkan dua teks yang membahas peristiwa yang sama. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan penelusuran perbedaan pilihan kata, kelengkapan bukti, dan tujuan komunikasinya.

Teks yang memuat hoaks atau judul provokatif dapat menjadi bahan pembelajaran yang konkret. Guru dapat meminta peserta didik menelaah diksi yang membangkitkan rasa takut, klaim yang tidak disertai bukti, serta informasi yang sengaja diletakkan di luar konteks.

Pertanyaan seperti siapa yang berbicara, kepada siapa pesan diarahkan, bukti apa yang disediakan, dan emosi apa yang hendak dibangkitkan akan melatih peserta didik membaca bahasa sekaligus memahami kepentingan di baliknya. Dengan demikian, pembelajaran bahasa terhubung langsung dengan tanggung jawab saat berpartisipasi di ruang digital.

Pembelajaran sastra juga dapat memanfaatkan perubahan medium untuk memperluas pengalaman membaca. Puisi dan cerpen kini dijumpai melalui gambar, rekaman suara, video pembacaan, dan unggahan singkat. Media digital dapat menjadi pintu masuk bagi peserta didik yang belum akrab dengan buku sastra.

Namun, perjumpaan awal itu perlu diikuti kegiatan membaca teks secara utuh agar pembelajaran tidak berhenti pada kutipan yang menarik secara visual.

Kutipan puisi Sapardi Djoko Damono, misalnya, kerap beredar dalam berbagai bentuk visual dan audio. Salah satu larik yang dikenal luas ialah “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”

Perjalanan puisi dari halaman buku menuju layar dapat dijadikan kegiatan analisis. Peserta didik membandingkan puisi utuh dengan kutipan yang beredar, lalu mendiskusikan bagian yang hilang, perubahan konteks, dan kemungkinan penyempitan makna.

Jika puisi disajikan melalui musik atau gambar, mereka juga dapat menilai bagaimana unsur visual dan audio mengarahkan interpretasi. Dengan cara itu, media bukan sekadar pemanis, melainkan objek kajian yang membantu peserta didik memahami hubungan antara teks, konteks, dan tafsir.

Platform seperti Wattpad dapat digunakan untuk membicarakan kebiasaan membaca, proses kepengarangan, dan hubungan penulis dengan pembaca. Peserta didik dapat menelaah pembukaan cerita, perkembangan konflik, karakterisasi, serta cara penulis menjaga perhatian pembaca dari satu bagian ke bagian berikutnya.

Guru tetap perlu mengarahkan diskusi agar popularitas sebuah karya tidak menjadi satu-satunya ukuran kualitas sastra.

Agar pembelajaran sastra tidak berhenti pada hafalan tema, tokoh, dan amanat, peserta didik dapat diberi tugas yang mengharuskan mereka menafsirkan sekaligus mempertanggungjawabkan pilihan kreatifnya. Misalnya, mereka diminta untuk:

a. merekam siniar pembacaan cerpen dengan menjelaskan pilihan intonasi dan penafsiran;

b. membuat video interpretasi puisi disertai alasan pemilihan gambar, suara, dan musik;

c. mengadaptasi cerita rakyat menjadi film pendek sambil mempertimbangkan konteks budaya dan perubahan yang dilakukan; atau

d. menulis ulasan novel untuk media sosial dengan argumen yang didukung bukti dari teks.

Setiap tugas tersebut perlu disertai proses perencanaan, pelaksanaan, pemberian umpan balik, dan refleksi. Ketika membuat video pembacaan puisi, misalnya, peserta didik menjelaskan alasan memilih jeda tertentu, cara intonasi membangun suasana, dan hubungan gambar dengan tafsir yang disampaikan.

Guru dapat menilai bukan hanya produk akhir, melainkan juga kedalaman pembacaan, ketepatan alasan, keterampilan berbahasa, kolaborasi, dan kemampuan merevisi pekerjaan setelah menerima masukan.

Narasi dalam gim digital juga dapat menjadi bahan pembelajaran apabila dipilih sesuai dengan tujuan dan karakter peserta didik. Gim dengan konflik kompleks, perkembangan karakter, pilihan moral, dan konsekuensi tindakan dapat dibandingkan dengan cerpen, novel, atau drama.

Peserta didik dapat menelaah alur, sudut pandang, karakterisasi, serta peran pilihan pengguna dalam membentuk cerita. Perbandingan ini memperluas bahan ajar sekaligus menguji apakah konsep sastra yang dipelajari dapat diterapkan pada medium yang berbeda.

Kecerdasan artifisial menghadirkan peluang sekaligus persoalan dalam pembelajaran bahasa dan sastra. AI dapat membantu menghasilkan gagasan awal, menyusun kerangka, merangkum bacaan, atau memberikan saran kebahasaan.

Namun, jika jawaban mesin langsung diterima sebagai hasil akhir, proses merumuskan masalah, menyusun argumen, dan mengambil keputusan bahasa berisiko terlewati. Oleh sebab itu, pemanfaatan AI perlu disertai tujuan pembelajaran yang jelas, aturan penggunaan yang transparan, dan penilaian yang memberi tempat bagi proses berpikir peserta didik.

Ketika peserta didik meminta AI menulis puisi tentang hujan, guru dapat melanjutkan tugas itu dengan pertanyaan yang menuntut pembacaan dan refleksi. Citraan apa yang digunakan? Bagaimana metafora dibangun? Bagian mana yang terasa klise? Bagaimana teks dapat direvisi berdasarkan pengalaman atau pengamatan sendiri?

Peserta didik perlu mampu menjelaskan keputusan kreatifnya, bukan hanya menyerahkan teks yang tampak selesai. Dengan demikian, penilaian beralih dari produk semata menuju proses, pemahaman, dan tanggung jawab kepengarangan.

Dalam pembelajaran sastra, AI lebih produktif ditempatkan sebagai bahan dialog dan pembanding. Guru dapat mengajak peserta didik untuk:

a. membandingkan puisi karya manusia dan teks yang dihasilkan AI berdasarkan citraan, struktur, dan pilihan diksi;

b. menandai bagian yang terasa umum, tidak konsisten, atau kurang didukung pengalaman dan konteks; serta

c. merevisi teks dengan alasan yang dapat dijelaskan, sekaligus mempertanggungjawabkan penggunaan bantuan AI.

Rancangan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi tetap memerlukan tujuan, aktivitas, dan asesmen yang saling terhubung. Guru perlu memastikan bahwa perangkat digital membantu peserta didik mencapai kompetensi, bukan sekadar membuat kegiatan tampak mutakhir.

Pertanyaan kuncinya ialah: keterampilan apa yang sedang dilatih, bukti belajar apa yang diharapkan, dan bagaimana peserta didik menjelaskan proses serta hasil kerjanya? Pertanyaan tersebut menjaga teknologi tetap berada dalam kerangka pedagogis.

Pembelajaran bahasa menuntun peserta didik menggunakan kata secara tepat, kritis, dan bertanggung jawab. Sementara itu, pembelajaran sastra memberi ruang untuk menafsirkan pengalaman, ambiguitas, dan kehidupan manusia.

Keduanya membutuhkan tempo belajar yang tidak selalu sejalan dengan kecepatan media digital. Ada saatnya peserta didik perlu membaca ulang, mendiskusikan perbedaan tafsir, memperbaiki tulisan, atau tinggal lebih lama bersama sebuah pertanyaan. Kegiatan-kegiatan itulah yang membuat pembelajaran tidak larut dalam logika serba cepat.

Pembelajaran bahasa dan sastra di tengah kelindan era digital pada akhirnya menuntut lebih dari sekadar kecakapan mengoperasikan perangkat. Peserta didik perlu belajar membaca secara kritis, menulis dengan kesadaran, menafsirkan karya, memeriksa informasi, dan menggunakan teknologi secara etis.

Guru bukan sekadar pengantar aplikasi baru, melainkan perancang pengalaman belajar yang menghubungkan medium digital dengan penalaran dan kepekaan manusia. Di sanalah teknologi memperoleh tempat yang proporsional: mendukung proses belajar tanpa mengambil alih kerja berpikir yang harus dijalani peserta didik.*

Bandung, 28 Oktober 2026

Penulis adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat.