PESAN UNTUK ZAVILDA: Belajarlah dari Baraa Bolat dan Zahra Berro

Akmal Nasery Basral

Oleh Akmal Nasery Basral

“Share our similarities,
celebrate our differences.”
~ M. Scott Peck
(psikiater, 1936-2005)

1/
Akhirnya Zavilda Rosandi minta maaf. Pencipta konten Zavilda TV tersebut mengunggah melalui kanal Youtube suaminya Ezagio VR, Selasa, 30/8. Pada tayangan 32 menit itu dia mengatakan, “saya juga mohon maaf banget sebesar-besarnya kepada kalian semua. Saya juga ucapkan terima kasih pada kalian semua atas tegurannya,” ujarnya di menit ke-8. Vilda menggunakan kata ‘juga’ karena 2-3 menit sebelumnya, Eza sang suami lebih dulu menyampaikan sikap bahwa “kami akui kami salah, kami minta maaf.”

Sebelum masuk ke topik utama SKEMA kali ini, ada beberapa catatan saya tentang permintaan maaf dari pasutri milenial ini.

Pertama, video ditayangkan tidak melalui kanal Zavilda TV yang menjadi sumber kontroversi selama ini. Vilda berkilah lupa password akun YouTubenya sehingga menggunakan kanal suaminya. Konten terakhir Zavilda TV diunggah 23 Agustus dengan judul “VIRAL! DUA CEWE S3XY TATOAN INSYAF KARENA TAKUT MATI & MEMILIH HIJRAH!”  

Kedua, Vilda dan Eza minta maaf ditemani dua orang lain, yakni seorang kru lelaki dan seorang cewek rambut pirang (salah seorang dari “dua cewek sexy tatoan insyaf” pada konten 23/8/2022). Anehnya, cewek yang sudah “insyaf karena takut mati & memilih hijrah” itu malah bercelana pendek yang memperlihatkan dengkulnya. Jadi, dimana letak “memilih hijrah” yang diklaim Zavilda pada judul konten terakhirnya?

Ketiga, lokasi minta maaf. Ini tak lazim. Cewek rambut pirang, Vildam dan Eza duduk berdempetan di atas kasur dan kru lelaki duduk di kursi samping tempat tidur. Kenapa permintaan maaf dari kamar tidur? Kenapa bukan di ruang tamu yang lebih pantas? (Apakah Vilda-Eza terinspirasi kampanye “Beds-in for Peace” yang dilakukan musisi eksentrik John Lennon-Yoko Ono di tahun 1969 yang menjadikan kamar tidur sebagai pusat menyampaikan pesan?)

Keempat, Vilda tetap bercadar dan kacamata hitam seperti biasa sehingga menyulitkan publik dalam menilai apakah dia tulus minta  maaf  atau sekadar terpaksa akibat kecaman warganet yang membadai?

Kelima, total waktu permintaan maaf Vilda & Eza jika digabungkan bahkan tak sampai satu menit. Bandingkan dengan total durasi video permintaan maaf yang setengah jam lebih. Mayoritas waktu mereka gunakan untuk memberikan penjelasan demi “meluruskan fakta sebenarnya” yang “salah dipahami netizen” akibat mereka menonton Zavilda TV “sepotong-sepotong” dan “tidak utuh”.

Singkatnya, video permintaan maaf  dibuat tidak berdasarkan kesadaran tulus atas kekeliruan konten yang mereka produksi, melainkan pada semangat membela diri yang berapi-api.  Dari video permintaan maaf kita mengancik ke topik utama tulisan ini.

2/
Jagat medsos tanah air memang gonjang-ganjing akibat konten Zavilda TV beberapa pekan terakhir. Tayangan selalu dibuka dengan kamera menyorot seorang perempuan yang tak berhijab–kadang sedang berdua dengan kawan/pacar/suami mereka—di ranah publik.

Zavilda lalu mendekati, mengajak berkenalan. Pertanyaan pertamanya, “Kakak agamanya apa?” Jika dijawab “saya Islam”, Vilda melanjutkan komunikasi frontal dengan menceramahi soal kewajiban menutup aurat bagi muslimah dan bertanya apakah mereka mau mencoba memakai hijab? Jika mereka menjawab “saya bukan Islam”, Vilda mempersuasi dengan cara lain yang ujungnya tetap sama: membuat mereka mau memakai hijab.

Konten selalu diberi judul bombastis. Selain konten terakhir (23/8) yang judulnya sudah ditulis di atas, beberapa judul konten lainnya adalah:

– “CEWE S3XY BERTATO TIDAK PERCAYA ADANYA TUHAN” (22/8/2022)

– “RISIH DENGAN HIJAB! CEWE S3XY PEROKOK MALAH NANGIS INGIN HIJRAH & INSYAF” (1/6/22)

– “BULE S3XY NONIS PAKE HIJAB SAMPE NANGIS-INGIN MASUK ISLAM?” (1/7/22).  Nonis adalah “non-Islam”. Bule di video ini seorang perempuan Prancis.  

– “KALI INI AKU GAGAL! BULE BELANDA MENOLAK KERAS PAKAI HIJAB!” (1/8/22).

Dengan judul bombastis dan konten provokatif tak heran jika Zavilda TV mendulang antipati publik yang terus membesar. Penampilan Zavilda yang bercadar membuat sebagian warganet berspekulasi bahwa dia anggota ormas Islam tertentu yang ingin mencadarkan perempuan, baik muslimah maupun non-muslimah. Spekulasi lain justru kebalikannya: Zavilda ditugaskan untuk memburukkan umat Islam, khususnya perempuan bercadar.

Namun kisah tak berhenti di sini. Perkembangan terbaru dicuitkan oleh akun Nadd (@littlevixen_) di Twitter yang mengutip IG @perempuanberkisah.

Ternyata ada pengakuan dari “target/talent” dalam konten  bahwa Vilda melakukan rekayasa konten, sampai tak mematuhi kesepakatan dengan “target/talent” untuk hal-hal tertentu.

Yang lebih mengagetkan, ada beberapa konten akun Tiktok Zavilda yang diposting ulang Nadd, dan menunjukkan perbedaan dramatis antara “Zavilda YouTube” dan “Zavilda Tiktok”.

Jika “Zavilda YouTube” selalu menceramahi perempuan lain yang tidak berhijab, maka “Zavilda Tiktok” berisi konten lelucon beraroma pornografi melalui dialog dengan suaminya Ezagio.

Misalnya konten berikut ini. Eza berdiri di samping Vilda yang sedang duduk di sebuah bangku taman. Eza menatap serius layar ponsel di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang sebuah botol air mineral.

Mendadak Eza berkata, “Yang, kocokin ini aku bentar dong?”
Vilda kaget dan ‘menampar’ suaminya (dengan efek suara tawa konyol seperti sering digunakan tayangan komedi teve yang tidak lucu). Eza menunjukkan botol air mineral di tangannya. “Astaghfirullahal adzim. Kocokin ini karena aku campur dengan serbuk putih. Aku lagi buka iklan.”

Selesai? Belum. Eza lalu menunjukkan bagaimana cara mengocok air di botol mineral dengan tangan kanannya sembari menggenggam tangan Vilda. Mengocok bersama.

Konten Tiktok lainnya, Eza menjauhi bangku taman tempat Vilda duduk ke ujung yang jauh. Lalu dia membelakangi penonton dan terlihat air muncrat dari bagian bawah pinggangnya. Vilda berdiri, bergegas mendekat, seraya menoyor bahu suaminya dan merepet. “Heh! Ngapain kencing di sini? Kelihatan burungnya!”

Eza menyahut dengan kalimat favoritnya. “astaghfirullahal adzim” sebelum balik badan dan melanjutkan, “Aku lagi cuci tangan kok,” katanya menunjukkan botol air mineral. Vilda melengos diiringi efek suara tawa konyol lagi. Jika Eza berulangkali mengucapkan “astaghfirullahal adzim”, mungkin Eza dan Vilda perlu tahu bahwa penonton yang lebih pantas mengucapkan kalimat istighfar itu melihat mutu konten mereka yang entah berkiblat pada mazhab humor apa.

Ada beberapa konten lainnya yang diunggah ulang oleh Nadd, namun dua contoh sudah cukup  untuk menggambarkan cara berpikir Zavilda-Ezagio yang tidak sinkron antara konten YouTube dan konten TikTok.

3/
Jika tulisan SKEMA ini sampai kepada Zavilda dan Ezagio— Dear medsos, please do your magic!–saya berpesan kepada kalian berdua, “Belajarlah membuat konten dari Baraa Bolat dan Zahra Berro. Kalian sebagai content creator pasti tahu siapa mereka, bukan? Jika belum, saya ringkaskan tentang keduanya sebagai penutup tulisan.”

Baraa, 27 tahun, perempuan Austria berdarah Tunisia adalah hijaber yang bicara multibahasa. Dia menggarap konten serial “Hijab Transformation” di kota-kota besar dunia (selain Wina tempat tinggalnya, juga di London, Dubai, Istanbul, dll).

Baraa menyapa perempuan aneka ras dan kewarganegaraan yang lalu lalang di jalan, lalu meminta mereka mencoba memakai hijab TANPA menanyakan apa agama mereka. Juga tak pernah bicara soal aurat kepada para relawan kontennya—dalam satu episode bisa 5-10 orang–selama dia mendandani mereka.

Perempuan-perempuan mancanegara yang didandani Baraa selalu berkomentar positif ketika melihat penampilan baru mereka saat berhijab.

Tayangan selalu diakhiri pelukan hangat dan ceria antara Baraa dengan kawan-kawan barunya karena mereka punya pemahaman sama tentang arti eksperimen sosial. Bahwa manusia bisa—untuk sesaat—keluar dari dunia sehari-hari yang mereka lakoni dan mencoba masuk ke dunia lain yang tak pernah mereka alami (dari pemakai tank-top menjadi hijaber selama beberapa menit).

Tujuannya? Untuk melihat dan merasakan dari sudut pandang berbeda. Bukan sebagai ajakan pertobatan, apalagi dicantumkan pada judul konten secara sepihak seperti cara Zavilda dalam konten-kontennya.

Berapa jumlah penonton Baraa? Antara 1 juta views sampai 4+ juta per konten!

YouTuber lain yang perlu disimak Zavilda adalah Zahraa Berro, 33 tahun, perempuan AS yang lahir dan tinggal di Dearborn, Michigan.

Zahraa yang berdarah Lebanon seorang hijaber dengan kemampuan komunikasi interpersonal sangat impresif. Pendekatan kontennya mirip Baraa. Dalam satu tayangan, Zahraa mampu mendandani 5-10 orang di ruang publik. Dari taman kota sampai pantai penuh turis.

Dari perempuan paruh baya warga Irlandia sampai cewek Rusia yang liburan dengan pacarnya. Semua menyambut gembira tawaran Zahraa untuk merasakan sensasi menggunakan hijab pertama kalinya dalam hidup mereka. Konten Zahra yang berjudul “NonHijabis Trying on Hijab for the FIRST TIME!” (25/10/21), contohnya, sudah ditonton 4,6 juta pemirsa.

Zavilda mesti becermin pada Baraa dan Zahraa dalam mengemas konten yang menarik simpati publik tanpa bersikap dan berkata ofensif kepada pemeluk agama lain, atau kepada muslimah yang belum berhijab.

Zavilda (dan Eza) tak bisa mendasarkan konten mereka dengan alasan  dakwah. Sebab dakwah sebagai sebuah perbuatan harus dilandasi ilmu yang memadai. Salah satu fondasi ilmu dalam berdakwah adalah “serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan (jika sampai berbeda pendapat maka) berdebatlah dengan cara yang bijaksana.” (QS 16:125).

“Ilmu sebelum amal” merupakan satu dari dua pilar dalam berdakwah. Pilar lainnya adalah adalah “adab sebelum ilmu”. Sehingga jika digabung menjadi dua prinsip berkelindan yang tak bisa dipisahkan, “adab sebelum ilmu dan ilmu sebelum amal”.

Tanpa mematuhi dua prinsip ini–apalagi mengabaikannya–bisa membuat dakwah kontraproduktif, bahkan menjadi bumerang, akibat gelombang antipati dari obyek dakwah. Di dunia maya maupun dunia nyata. Sebab, manusia pada dasarnya mempunyai banyak perbedaan, dari kebiasaan sampai keyakinan. Oleh sebab itu adab menjadi basis utama dan penaut kemanusiaan.

Simaklah bagaimana Zahraa Berro  dengan cermat mengutip psikiater Morgan Scott Peck dalam narasi kontennya, dan saya kutip lagi sebagai pembuka tulisan ini, “Berbagilah kesamaan kita, rayakanlah perbedaan kita ( share our similarities, celebrate our differences).”

Semoga dengan kasus yang sedang dialami Zavilda dan Ezagio saat ini tak membuat patah arang melainkan lebih bersemangat menyelami lebih dalam lagi samudera hikmah untuk menemukan mutiara kearifan tentang makna Islam sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Salah satu caranya dengan mempelajari konten-konten Baraa dan Zahraa yang sama dan sebangun dengan konten-konten YouTube kalian, namun dikemas dengan cara yang lebih empatetik dan elegan.

Zavilda boleh tetap bercadar, tetapi bukalah kacamata hitam yang selalu dikenakan. Selain tidak adil pada “target” yang selalu diekspos penampilan fisik mereka apa adanya, juga menimbulkan kesan ada sesuatu yang disembunyikan Zavilda kepada dunia.  

Sementara pada konten-konten Baraa dan Zahraa yang berhijab (namun tak bercadar), publik bisa melihat gestur dan ekspresi wajah keduanya yang lebih jujur dan lebih inosens.

Bukan jenis konten yang dibuat hanya untuk mengejar cuan dari Google Adsense.

@akmalbasral
4 September 2022/
7 Safar 1444 H

Penulis adalah sosiolog, penulis novel dwilogi Dilarang Bercanda dengan Kenangan dan Gitasmara Semesta (Republika Penerbit), kisah perempuan-perempuan berhijab dan tak berhijab yang saling terhubung melalui buhul kemurnian cinta dari ketulusan jiwa.