Puisi-Puisi Wina Armada Sukardi

Wina Armada Sukardi

Tirai

Manakala tirai panggung kehidupan diri mulai disingkap
kita melungsur ke bentala
dalam ketelenjangan seutuhnya
bagaikan seonggok daging hidup
tak berdaya
tak memiliki hasrat
tak punya kaedah
cuma mengenal: lapar

Semalam tirai jendela kamar
ditutup rapat-rapat
agar tak ada yang dapat mengetahui
ketelajangan kita bersama pasangan.

Tirai jendela ditutup
cuma menghalangi pandangan dari luar
Tirai hati ditutup
segalanya gelap gulita
akhir dan awal mungkin tetukar
penyelewenangan amanah dikira tugas mulia
Keculasan dapat terbungkus kilau emas.

Tirai prasangka menghasilkan fitnah  
niat baik dituding hasrat buruk.

Menguak tirai mengintip ke luar
menambah pengetahuan
memungut kearifan
juga perbandingan diri
dan rasa cinta kasih.

Tersuguh banyak jenis tirai
telunjuk boleh  memilih yang manapun
dan dapat dipasang dimanapun.

Ada tirai kemunafikan
Ada tirai ketamakan
Ada tirai penghianatan
Ada tirai kejujuran
Ada tirai keberanian
Ada tirai ketulusan
Ada tirai tingkap
Dan ada tirai tanpa tirai.

Di ujung senja usia
tirai pribadi diri  bakal ditutup
menjatuhkan keping-keping perilaku
membentuk pola alur
di dinding timbangan.

Saat berpulang setiap kita bakal memikul tirai masing-masing.

Jakarta, 13 April 2023.

Sepatu 1

Diletakan paling bawah
selalu diinjak-injak
terkadang dijadikan alat penindas kaum papa
sepatu tak pernah terhinakan
Senantiasa masih menjadi tumpuan kekukuhan kaki  
untuk berdiri dan berlari.
Sepatu selalu dibersihkan dan dipoles sampai mengkilat.

Hanya sepatu yang sepadan ukurannya memberikan kenyamanan bagi pemakainya.
Sepatu kebesaran mudah membuat limbung
Sepatu kekecilan bakal melukai diri
serta menghambat perjalanan.

Sepatu melindungi kaki dari luka lantaran segala onak
Sepatu pun dapat mengantar seorang pelacur yang menolong memberi air minum  
kepada seekor anjing kehausan  
menggunakan sepatu menuju jalan ke surga.
Dalam  dogeng dari barat sampai timur
sepatu yang tertinggal menentukan seorang menjadi ratu.

Sepatu mengapungkan ajaran
tidak semua pekerjaan dan jabatan cocok buat kita
Tugas yang keberatan membuat jiwa tertekan
jabatan tinggi tanpa berkah
menjebloskan menjadi pesakitan di balik jeruji besi
Sedangkan pekerjaan yang di bawah kemanpuan memupuk  kemalasan
memupus kemampuan terbaik.

Serendah apapun jabatan dan kedudukan kita
jika amanah dan
ahli
jauh lebih berguna
ketimbang memiliki kedudukan tinggi
tapi ingkar dan batil.

Sepatu kiri dan kanan pastilah berbeda
tapi keduanya saling menghormati dan bekerja sama melahirkan langkah-langkah serasi dan kuat
tanpa pernah saling menuding dan mengeluh.
Sedangkan manusia kerap membenci perbedaan dengan dirinya
lalu berlaku tidak adil
bagi siapapun yang berbeda.

Setiap orang memiliki ukuran sepatu masing-masing.
Kita mau pilih sepatu yang mana?

Manusia hanya berharga jika bermanfaat bagi sesama manusia lainnya.

Sepatu memanusiakan manusia.

Si tamak, dengki dan khianat
derayatnya lebih daif dari sepatu
kini, nanti  
serta selamanya.*

Jakarta, 24 April 2023