China Menolak Keras Tarif Impor Baru Amerika dan Siap Memberikan Balasan

Seorang pedagang menunggu pelanggan di tokonya yang menjual berbagai mainan di pasar grosir Yiwu di Yiwu, Provinsi Zheijiang, 8 November 2024. (Foto: Andy Wong/AP Photo)

J5NEWSROOM.COM, Beijing – China menyatakan penolakan keras terhadap tarif baru yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam kebijakan dagang terbaru yang diumumkan pada Sabtu, 1 Februari 2025. Kementerian Perdagangan China, dalam pernyataannya pada Minggu, 2 Februari 2025, mengecam langkah Washington yang dianggap sebagai praktik keliru dan menegaskan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan balasan yang sesuai untuk melindungi hak serta kepentingannya.

Trump sebelumnya mengumumkan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap impor China, di luar bea masuk yang sudah ada, sebagai bagian dari kebijakan yang lebih luas terhadap mitra dagang utama Amerika Serikat. Menanggapi kebijakan ini, Kementerian Perdagangan China menyatakan akan mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dengan alasan bahwa pengenaan tarif sepihak oleh Amerika Serikat sangat melanggar aturan perdagangan internasional.

Beijing juga menilai bahwa tarif tersebut tidak akan membantu menyelesaikan permasalahan ekonomi Amerika sendiri, justru berpotensi merusak kerja sama perdagangan yang sudah terjalin. Kementerian Perdagangan China menambahkan bahwa Washington seharusnya menangani permasalahannya sendiri secara objektif, termasuk dalam isu krisis opioid fentanil, alih-alih menerapkan kebijakan tarif yang dianggap tidak tepat.

Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri China mengingatkan bahwa tidak ada pihak yang akan menang dalam perang dagang maupun perang tarif. Kebijakan tarif tambahan ini, menurut China, juga dapat berdampak negatif terhadap kerja sama kedua negara dalam bidang pengendalian narkoba, yang sebelumnya telah menjadi salah satu poin penting dalam hubungan bilateral.

China pun mendesak Amerika Serikat untuk memperbaiki kebijakan perdagangannya, mencari solusi yang lebih adil, serta membangun dialog yang lebih jujur guna menjaga hubungan ekonomi kedua negara tetap stabil dan saling menguntungkan.

Editor: Agung