Bertukar Kisah di Langit Batu: Empat Jam Menyimak Cerita Sonny Njonoriswondo

Pengusaha hotel Sonny Njonoriswondo saat menjamu sahabatnya Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana di Skydome Lounge & Bar, di lantai atas Hotel Golden Tulip Holland Resort Batu Malang. (Foto: J5NEWSROOM.COM)

J5NEWSROOM.COM, Malang – Malam perlahan turun di kaki langit Kota Batu. Awan tipis menggantung manja di angkasa, ketika aroma rempah dan kelembutan malam bersatu dalam suasana hangat Skydome Lounge & Bar, sebuah restoran eksklusif yang terletak di lantai atas Hotel Golden Tulip Holland Resort Batu.

Di balik kehangatan malam Rabu, 3 September 2025 itu, terjadi sebuah pertemuan yang penuh makna. Seorang tuan rumah, arsitek sekaligus pengusaha hotel Sonny Njonoriswondo, menjamu dua sahabatnya. Mereka adalah Dr Aqua Dwipayana, pakar komunikasi yang dikenal luas karena kiprahnya menjalin silaturahmi lintas profesi dan daerah, serta Handoko Sugiharto, ahli struktur dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra Surabaya.

Pertemuan yang awalnya sekadar makan malam santai itu, berubah menjadi ruang berbagi kisah hidup yang kaya pelajaran.

Sejak pukul 19.30, ketiganya duduk mengelilingi meja yang disiapkan khusus di sudut terbaik restoran. Dari balik kaca transparan, panorama Kota Batu yang mulai gemerlap tampak mengiringi percakapan yang tak terasa mengalir hingga empat jam kemudian, tepat pukul 23.30.

Sambil menikmati ragam sajian istimewa dari dapur Golden Tulip—mulai dari black pepper angsa talas, sup jagung pumpkin, shortplate pocay superior, hingga nasi goreng seafood XO—perbincangan tak pernah kehilangan arah.

Sesekali tawa lepas terdengar, membaur dengan aroma glutinosc lecy ball yang mengepul hangat. Namun yang paling terasa, adalah atmosfer kehangatan yang tak dibuat-buat—kehangatan tiga sahabat yang saling menghargai, mendengar, dan memaknai.

Dalam suasana itulah, Sonny mulai membuka lembar demi lembar kisah hidupnya. Seorang arsitek yang rendah hati, namun menyimpan segudang pengalaman. Seorang kontraktor yang piawai membaca ruang dan waktu. Dan seorang pemilik hotel yang menjadikan mimpi sebagai pijakan langkah.

“Setiap proyek punya cerita. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita bersabar menghadapi orang-orang yang berbeda watak dan cara berpikir,” ujar ayah tiga putra itu sembari tersenyum.

Sonny bukan sekadar berbicara tentang struktur bangunan. Ia bercerita tentang struktur kehidupan: tentang kepercayaan klien, tentang kerja sama tim, tentang tantangan menghadirkan standar tinggi dalam industri perhotelan, dan terutama tentang bagaimana menyelaraskan ambisi dengan integritas.

Dr Aqua Dwipayana, yang menyimak dengan antusias, tak segan memberikan apresiasi atas keteguhan sahabatnya itu.

“Saya belajar banyak malam ini. Tentang bagaimana sebuah keberhasilan dibangun dari kesabaran menghadapi manusia, bukan hanya angka dan material,” ujarnya dengan tulus.

Hotel Golden Tulip Holland Resort Batu adalah salah satu dari tiga hotel berbintang yang dibangun Sonny. Bukan perkara mudah. Ia harus berpikir sebagai arsitek, sekaligus sebagai pemilik usaha. Ia harus merancang bukan hanya estetika bangunan, tapi juga strategi jangka panjang. Tidak hanya tentang kemewahan ruang, tapi juga tentang kenyamanan pengalaman.

Dan malam itu, di ruang yang ia desain sendiri, Sonny berbagi nilai-nilai yang menjadi fondasi hotel tersebut. Bahwa setiap pengunjung adalah tamu yang harus disambut dengan keikhlasan. Bahwa keindahan bukan hanya pada lampu gantung atau marmer lantai, tapi pada pelayanan yang menyentuh hati.

Empat jam. Waktu yang terbilang singkat dalam usia manusia, tapi cukup untuk mengendapkan hikmah dari sebuah perjalanan panjang. Dari Sonny, Dr Aqua dan Handoko Sugiharto belajar bahwa kesuksesan adalah soal proses. Tentang bangkit ketika gagal, tentang rendah hati ketika berhasil.

Dan di sudut lain restoran, buah potong terakhir telah berpindah ke piring, menandai selesainya malam panjang yang hangat. Namun percakapan mereka belum benar-benar selesai.

Karena seperti kata Sonny malam itu, “Cerita kehidupan tidak pernah selesai. Ia hanya berpindah dari satu meja ke meja lainnya. Selama ada waktu, dan sahabat yang mau mendengar.”

Editor: Agung