
Oleh Dr Aqua Dwipayana
BANYAK orang yang menyampaikan keinginannya untuk aktif dan rajin silaturahim. Menemui saudara dan koleganya. Mendiskusikan berbagai hal yang menarik sambil bersenda gurau. Menyenangkan sekali.
Mereka ingin melakukan seperti yang puluhan tahun konsisten saya laksanakan. Hampir setiap hari beraktivitas, silaturahim ke banyak orang, baik di dalam maupun di luar negeri.
Umumnya mereka membayangkan aktivitas mulia yang saya lakukan itu sangat menyenangkan. Setiap hari ketemu banyak orang yang latar belakangnya beragam.
Saat berjumpa membicarakan berbagai hal menarik dan aktual. Juga mendapat cerita dan banyak pengalaman dari orang yang ditemui.
Setiap melaksanakan silaturahim menambah pengetahuan, wawasan, ilmu, dan pengalaman. Nilainya melebihi materi. Sering mendapatkan hal baru yang sebelumnya tidak pernah diperoleh di bangku sekolah hingga kuliah.
Semua hal positif yang menyenangkan itu membuat saya ketagihan melaksanakan silaturahim. Sebelum melakukannya membayangkan memperoleh hal-hal baru yang besar sekali manfaatnya.
Selain itu hubungan dengan orang yang ditemui makin akrab. Komunikasinya lancar dan sama sekali tidak ada jarak.
Semua pengalaman menyenangkan itu saya ceritakan ke banyak orang. Harapannya mereka dapat melakukan hal yang sama dan memperoleh rezeki serupa seperti saya.
Membayangkan Kurang Bersahabat
Mereka yang ingin bersilaturahim seperti saya, awalnya menggebu-gebu dan semangat sekali. Membayangkan berbagai hal yang menyenangkan.
Belum melaksanakan niat baik tersebut, mereka sudah berpersepsi negatif. Khawatir saudara dan teman yang akan ditemui berprasangka bahwa kedatangan mereka punya tujuan tertentu termasuk meminta sesuatu.
Akibatnya langsung mengurungkan rencana silaturahim itu. Sementara persepsi negatif itu terus muncul dalam dirinya. Diikuti dengan membayangkan wajah dan sikap orang yang mau ditemui kurang bersahabat.
Ironisnya perasaan seperti itu muncul pada semua orang. Menggeneralisirnya. Membuat makin tidak semangat untuk bersilaturahim.
Belum melakukan silaturahim telah banyak muncul pikiran negatif pada dirinya. Pemikiran itu terus dipelihara bahkan terkadang ada yang “menikmatinya”.
99 Persen Menerima
Realitanya tidak seperti itu. Pengalaman saya selama ini hanya sebagian kecil, sebatas hitungan jari, orang yang beranggapan bahwa saya silaturahim untuk merepotkan dirinya. Meminta sesuatu darinya.
Umumnya atau sebagian besar, presentasenya 99 persen dengan penuh suka cita menerima saya. Bahkan saat kami ngobrol, akrab sekali. Sama-sama antusias.
Kondisi itu tidak hanya pada teman lama. Mereka yang baru kenal sama saya, juga bersikap seperti itu.
Dari awal niat silaturahim, saya sudah berpersepsi positif. Membayangkan semua hal yang menyenangkan saat ketemu siapa pun.
Realitanya seperti itu. Komunikasinya nyambung. Saling menghargai dan menghormati sehingga selalu berhati-hati saat berkomunikasi.
Hasilnya luar biasa dan dahsyat. Kami sama-sama mensyukuri dan menikmati pertemuan itu. Setiap berpisah, selalu rindu untuk kembali ketemu guna bersama-sama merasakan semua yang menyenangkan.
Kesimpulannya begitu ada niat untuk silaturahim, langsung laksanakan. Jangan berpersepsi negatif karena akan merugikan diri sendiri.
Dari Aeon Mall Sentul City Kabupaten Bogor saya ucapkan meningkatkan silaturahim dan selalu merawatnya. Salam hormat buat keluarga.
19.00 28022026
Penulis adalah Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional
