
Puisi Jonkavi
Ya Allah,
gerakkanlah semesta-Mu
bukan untuk mengguncang gunung
atau menumpahkan laut,
tetapi sekadar melunakkan hati
mereka yang terlalu sibuk
menghitung jarak rudal
dan lupa menghitung jarak kemanusiaan.
Di bawah langit yang sama ini
kami hanya makhluk kecil-Mu,
yang menunggu panggilan suci
untuk berdiri di depan Ka’bah
dan mengumandangkan rindu:
Labbaik Allahumma Labbaik.
Namun bumi sedang riuh, ya Rabb.
Rudal beterbangan
seperti berita kilat di layar televisi
datang cepat,
meledak cepat,
lalu diganti dengan angka korban
yang dibacakan tanpa sempat ditangisi.
Padahal ada umur
yang mungkin tak sempat menunggu damai.
Ada kesehatan
yang mungkin tak kuat menunda panggilan-Mu.
Ada rezeki
yang tak selamanya bisa disimpan
untuk perjalanan menuju rumah-Mu.
Ya Rabb,
hentikan adu rudal di atas bumi-Mu ini.
Bumi terlalu tua
untuk terus dijadikan arena lomba kesombongan.
Di planet kecil ini
bukan hanya jenderal dan presiden yang hidup.
Ada ibu-ibu yang menanak harapan,
ada anak-anak yang masih belajar mengeja masa depan,
dan ada reporter
yang berdiri di tengah debu peristiwa,
mencatat luka manusia
lalu membaginya menjadi berita
agar dunia tahu
betapa mahalnya harga sebuah kedamaian.
Ya Allah,
Engkau Maha Asyik dalam mencipta galaksi,
dalam menata bintang,
dalam memberi manusia hati.
Maka buatlah bumi ini kembali asyik, ya Rabb
asyik tanpa sirene perang,
asyik tanpa berita duka,
asyik dengan manusia
yang lebih rajin bersujud
daripada saling menarik pelatuk.
Supaya suatu hari nanti
ketika panggilan-Mu benar-benar tiba,
kami datang dengan dada lapang
bukan sebagai korban perang,
bukan sebagai angka statistik,
tetapi sebagai hamba
yang akhirnya sempat berseru:
Labbaik Allahumma Labbaik.
Batam, 15 Maret 2026
