Harga Minyak Dunia Naik Lagi di Tengah Ketegangan AS-Iran

(Foto: Ist)

J5NEWSROOM.COM – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (28/5) pagi, setelah sehari sebelumnya sempat anjlok lebih dari 5 persen. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, menyusul mandeknya pembicaraan Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait pembukaan akses Selat Hormuz serta laporan serangan militer baru di wilayah Iran.

Minyak jenis Brent tercatat melonjak hingga menembus di atas 96 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati level 90 dolar AS per barel. Sentimen pasar turut terpengaruh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut dirinya “belum puas” terhadap jalannya negosiasi. Di sisi lain, Gedung Putih membantah laporan Iran terkait draf kesepakatan yang disebut akan melibatkan Iran dan Oman dalam pengawasan jalur pelayaran strategis tersebut.

Ketegangan semakin meningkat setelah militer AS dilaporkan kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Seorang jurnalis Reuters, mengutip pejabat AS melalui platform X, menyebut serangan itu menargetkan fasilitas militer yang dinilai mengancam keselamatan pasukan AS dan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sebelumnya, AS juga telah melakukan serangan di sejumlah titik di sekitar kawasan tersebut.

Meski demikian, harga minyak masih berada dalam tren penurunan mingguan kedua berturut-turut, seiring munculnya harapan bahwa para pihak masih berpeluang mencapai kesepakatan sementara. Namun, sejumlah isu krusial masih menjadi ganjalan, termasuk program nuklir Iran serta keinginan Teheran mempertahankan kendali atas Selat Hormuz yang kini berada dalam tekanan blokade.

Situasi semakin kompleks setelah Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan menyepakati perjanjian yang dianggap merugikan, sekaligus menolak melonggarkan sanksi terhadap Iran. Sikap ini berseberangan dengan tuntutan Teheran yang meminta penghentian serangan serta keringanan sanksi ekonomi. Di dalam negeri, Trump juga menghadapi tekanan dari kelompok garis keras Partai Republik untuk melanjutkan operasi militer di tengah konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.

Di sisi lain, pelaku pasar menilai masih ada ruang optimisme terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan. Kepala Riset Pepperstone Group Ltd di Melbourne, Chris Weston, menyebut pasar saat ini cenderung terlalu optimistis, meski risiko kegagalan negosiasi tetap terbuka lebar.

Dari sisi pasokan, data American Petroleum Institute menunjukkan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 2,8 juta barel pada pekan lalu, termasuk di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma. Data resmi pemerintah dijadwalkan dirilis pada Kamis waktu setempat.

Ahli strategi energi global Rabobank, Joe DeLaura, menilai pasar minyak saat ini relatif tenang, salah satunya dipengaruhi pelepasan cadangan minyak strategis dan penurunan impor dari China. Namun ia memperingatkan potensi lonjakan harga jika kondisi pasokan kembali terganggu pada pertengahan tahun.

Kegagalan mencapai kesepakatan damai dinilai berisiko memperpanjang gangguan pasokan minyak global, yang pada akhirnya dapat menekan inflasi dan memicu respons kebijakan moneter ketat dari bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed).